◐

Viral Bayi 24 Hari Diduga Dicekoki Telur Mentah, IDAI Buka Suara

Jakarta -

Kasus bayi bernama Alena yang diduga diberi telur mentah oleh neneknya menjadi sorotan di media sosial. Bayi yang usianya belum genap satu bulan itu sempat mengalami kondisi kritis hingga harus menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

Alena dilaporkan mulai dirawat di rumah sakit tersebut pada Jumat (9/10) dan sempat mendapatkan penanganan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan, Alena mengalami demam sebelum diduga diberi telur mentah oleh neneknya, yang merupakan ibu dari ayahnya. Telur mentah tersebut disebut diberikan dengan tujuan menurunkan demam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, kondisi Alena kemudian dilaporkan memburuk hingga memerlukan perawatan lebih lanjut. Belakangan, kabar duka mengenai meninggalnya Alena juga beredar di media sosial.

Menyoroti hal tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan usia, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan dalam pemberian makanan kepada bayi. Hal ini termasuk menghindari pemberian telur mentah atau setengah matang yang berisiko menyebabkan infeksi.

Ketua Umum IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan pemberian makanan kepada bayi harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kemampuan makannya. Hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal.

"IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, kemudian melanjutkan pemberian ASI disertai makanan pendamping ASI (MPASI) hingga usia 2 tahun atau lebih," demikian keterangan yang diterima detikcom, Senin (12/10/2026).

Ia menjelaskan bayi yang belum memasuki usia MPASI tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan lainnya, termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan.

MPASI Umumnya Dimulai pada Usia 6 Bulan

Sesuai rekomendasi WHO, pemberian MPASI secara umum dimulai ketika bayi berusia 6 bulan. Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi oleh ASI saja.

Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak bayi berusia 4 bulan atau 17 minggu. Namun, pemberian MPASI pada usia tersebut bukan rekomendasi rutin dan harus didasarkan pada pertimbangan klinis serta kesiapan perkembangan bayi.

Keputusan tersebut perlu melalui penilaian dokter dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, dan kemampuan makan bayi. Sementara itu, pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan.

Adapun kesiapan bayi menerima MPASI juga perlu dinilai secara menyeluruh. Beberapa tandanya meliputi kemampuan mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil, duduk dengan bantuan dan mempertahankan posisi tubuh yang memadai, menunjukan koordinasi gerakan mulut dan kemampuan menelan makanan dengan tekstur yang sesuai, serta menunjukkan ketertarikan terhadap makanan dan mulai mampu menerima makanan dari sendok.

"Kesiapan tersebut harus dinilai secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan satu tanda," ucap dr Piprim.

Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan menelan, atau tekstur yang dapat diterima bayi dapat meningkatkan risiko tersedak, aspirasi atau masuknya makanan ke saluran napas, serta gangguan pemberian makan.

Risiko Pemberian Telur Mentah dan Setengah Matang pada Bayi

dr Piprim menegaskan telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan.

Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis. Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi.

Pada bayi dan anak kecil, infeksi tersebut dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Selain itu, IDAI menyebut telur mentah atau setengah matang tidak memberikan keuntungan gizi yang dapat membenarkan risiko pemberiannya kepada bayi. Keamanan, tekstur, dan cara penyajian makanan harus selalu disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan anak.

Halaman 2 dari 3

Simak Video "Video: Gak Perlu Ribet, Bayi Baru Lahir Kini Bisa Langsung Punya Akta"
[Gambas:Video 20detik] (suc/kna)