Ustdz "Utuh Kurihing" ungkap makna shalawat kontekstualnta dengan Maulid - ANTARA News Kalimantan Selatan

Banjarmasin (ANTARA) - Ustadz Nurkhozin Fahmi Hamdi atau yang akrab dengan sapaan "Utuh Kurihing" dalam tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) juga ungkapkan makna shalawat dan kontekstualnya dengan peringatan Maulid. 

"Bagi yang tidak mengetahui makna hakiki shalawat kepada Nabi Besar Muhammad SAW dan kontekstual dengan peringatan Maulid, mungkin cuwek atau tak peduli," ujarnya sesudah Shalat Subuh Ahad. 

Dengan mengutip Hadits Rasulullah Muhammad SAW, Ustadz Utuh Kurihing (utuh kurihing dari bahasa daerah Banjar, pengertiannya laki-laki yang murah senyum) mengatakan, dengan shalawat bisa mengantarkan seorang Muslim ke surga. 

"Pasalnya sebagaimana Hadits Rasulullah SAW bagi seorang Muslim banyak bershalawat akan bertemu Beginda Rasul di surga," ujar Ustadz Utuh Kurihing (utuh=panggilan anak laki-laki kesayangan; kurihing=senyum). 

Sedangkan peringatan Maulid sebuah refleksi kebanggaan atau kesenangan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang merupakan rahmat alam semesta penyelamat umat manusia yang mematuhi tuntuan atau sunnahnya. 

Oleh karena itu, ustadz asal Kelua (200 km utara Banjarmasin), Kabupaten Tabalong, Kalsel tersebut mengajak kaum Muslim, terutama jamaah Masjid Assa'adah agar banyak-banyak bershalawat kalau memang mau bertemu/bersama Rasulullah SAW. 

Dalam tausyiahnya, ustadz yang pernah aktif mengisi acara Banjar Tv (Tv swasta urang Banua) menceritakan seorang pemuda saat tawaf hanya bershalawat tidak seperti orang-orang pada biasanya. 

"Kemudian seorang tua bertanya : apakah anak muda cuma sendiri? Dijawabnya tidak, tapi berdua dengan orang tua (ayah)," ungkap Ustadz Utuh Kuring seraya menambahkan orang itu bertanya kembali ; mana orang tua mu? 

Ustadz H Nurkhozin Fahmi Hamdi atau Utuh Kurihing saat tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin sesudah Shalat Subuh, Ahad (23/8/2026). (ANTARA/Syamsuddin Hasan)y

Si pemuda itu pun bercerita kepada orang tua tersebut yang intinya berkat bershalawat ayahnya terselamatkan dari siksa Allah. Itulah sebabnya dia (si pemuda) selalu bershalawat saat tawaf keliling ka'bah,  kutip Ustadz Nurkhozin Fahmi Hamdi. 

Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.