"Urban farming" jaga komoditas pangan Jakarta saat musim kemarau
Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur (Jaktim) menggencarkan pertanian perkotaan (urban farming) sebagai upaya menjaga komoditas pangan Jakarta saat musim kemarau.
"Ya salah satunya dengan pemanfaatan lahan sekitar kita dengan aktivitas budidaya pertanian, perikanan, peternakan. Menjaga pasokan sayuran, buah-buahan, cabai, dan lain-lain," kata Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Timur Taufik Yulianto saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Taufik, pemanfaatan lahan kosong untuk budidaya pangan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat, seperti menanam tanaman yang dapat dibudidayakan di wilayah perkotaan.
Salah satu penerapannya terlihat dari kegiatan budidaya kangkung di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur, yang telah menghasilkan panen.
"Panen kangkung, sayur-sayuran lain juga, cabai, buah-buahan. Sehingga saat musim kemarau tidak terlalu khawatir dengan pasokan sayur dan buah," ujar Taufik.
Selain itu, pemanfaatan lahan melalui urban farming menjadi penting ketika kondisi kemarau menyebabkan sejumlah komoditas pertanian menghadapi tantangan ketersediaan air.
Baca juga: KPKP Jaktim upayakan penghematan air untuk jaga pertanian perkotaan
Apalagi, sejumlah tanaman memang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap air. Seperti padi, membutuhkan air relatif banyak, sehingga kekeringan dapat memengaruhi luas tanam, pertumbuhan, hingga produktivitas.
Lalu, sayuran daun seperti kangkung, bayam, sawi, dan pakcoy juga membutuhkan pasokan air yang cukup. Kekurangan air dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman.
Komoditas cabai juga berpotensi terdampak karena kekurangan air dapat mengganggu pembungaan dan pembentukan buah serta meningkatkan risiko tanaman mengalami stres.
"Komoditas yang sangat bergantung pada ketersediaan air, terutama padi, sayuran daun seperti kangkung, bayam, sawi, dan pakcoy, cabai, jagung, serta buah-buahan seperti melon dan semangka," jelas Taufik.
Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat tetap melakukan urban farming di rumah atau lingkungan sekitar, tetapi menyesuaikan jenis tanaman, kondisi lingkungan, dan ketersediaan air.
Penyiraman dilakukan secara efisien, sebaiknya pada waktu yang tidak terlalu panas dan dapat menggunakan molase pertanian sebagai tetes tebu untuk mempertahankan kelembapan media.
Taufik berharap, kegiatan urban farming tidak hanya menjadi aktivitas pemanfaatan lahan kosong, tetapi menjaga ketersediaan pangan di tingkat lingkungan masyarakat.
"Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan produksi sejumlah komoditas pangan di Jakarta Timur sekaligus mengoptimalkan lahan perkotaan yang selama ini belum dimanfaatkan," ucap Taufik.
Baca juga: KPKP Jaktim sebut pertanian perkotaan tetap berjalan saat kemarau
Baca juga: Sudin KPKP Jaktim ciptakan sekolah hijau lewat "urban farming"
Baca juga: Pemkot Jaktim pilih sekolah percontohan pengembangan urban farming
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.