◐

UIN Jakarta Bahas Masa Depan Keuangan Syariah di ASEAN |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri keuangan syariah di kawasan ASEAN menghadapi tantangan pengembangan teknologi digital, penguatan regulasi, dan pembiayaan berkelanjutan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri dinilai diperlukan untuk mengembangkan inovasi keuangan syariah sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan membahas persoalan tersebut melalui konferensi internasional The 14th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF 2026). Konferensi dijadwalkan berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Serpong, Tangerang Selatan, dengan melibatkan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara.

Dekan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ibnu Qizam mengatakan, perkembangan ekonomi global menuntut industri keuangan syariah terus beradaptasi. Selain inovasi teknologi, pengembangan sektor ini perlu memperhatikan stabilitas industri dan keberlanjutan ekonomi.

"Konferensi ini dirancang untuk merespons berbagai dinamika global. Wacana yang diangkat mencakup isu-isu krusial, seperti optimalisasi wakaf pendidikan, penguatan koperasi berbasis syariah, hingga peranan teknologi finansial (fintech) syariah dalam mendorong inklusi ekonomi," ujar Ibnu dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2026).

Menurut Ibnu, pembahasan keuangan syariah tidak hanya berkaitan dengan pengembangan produk perbankan dan investasi. Pemanfaatan instrumen keuangan sosial Islam, termasuk wakaf, juga menjadi salah satu isu yang akan dibahas untuk memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Konferensi tersebut mengangkat tema Islamic Finance in the Contemporary Global Economy: Innovation, Stability, and Sustainability. Pembahasannya mencakup tujuh bidang, antara lain digitalisasi layanan keuangan, tata kelola dan regulasi, ekonomi hijau, serta keuangan sosial Islam.

Isu lainnya meliputi transformasi ekonomi global, pengembangan pendidikan dan penelitian keuangan Islam, serta pertumbuhan ekosistem ekonomi halal. Berbagai pembahasan tersebut diharapkan menghasilkan pertukaran gagasan antara kalangan akademisi dan praktisi industri.

AICIF 2026 akan menghadirkan pembicara dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sejumlah akademisi yang dijadwalkan hadir antara lain M. Kabir Hassan, Noraini Mohd Ariffin, M. Ishaq Bhatti, dan Alex Sofjan Noor.

Konferensi yang diketuai Rahmawati tersebut mendapat dukungan sekretariat International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE). Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar juga dijadwalkan menghadiri pembukaan kegiatan.

Selain forum diskusi, konferensi menyediakan kesempatan publikasi bagi peneliti yang mengirimkan karya ilmiah. Seluruh naskah yang lolos seleksi akan diterbitkan dalam prosiding ber-ISBN, sedangkan artikel terpilih berpeluang masuk jurnal nasional maupun internasional setelah melalui proses penelaahan sejawat.

Sejumlah jurnal mitra publikasi meliputi Gadjah Mada International Journal of Business, Etikonomi, Al-Iqtishad, Signifikan, Esensi, dan Akuntabilitas. Kerja sama publikasi tersebut diharapkan memperluas penyebaran hasil penelitian mengenai ekonomi dan keuangan syariah.