Trump kecam Kanada, sebut AS telah dimanfaatkan selama puluhan tahun
Istanbul (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu meningkatkan retorikanya terhadap Kanada dengan menyebut negara tetangganya di utara itu sebagai salah satu negara terburuk di dunia untuk diajak berurusan.
“Mereka telah memanfaatkan Amerika Serikat selama beberapa dekade,” kata Trump kepada komentator politik Glenn Beck.
Ia menuding Ottawa menerapkan tarif yang luar biasa tinggi dan memperlakukan hubungan dengan AS seolah-olah Kanada merupakan salah satu negara bagian AS.
Trump juga menyoroti defisit perdagangan tahunan sebesar 60 miliar dolar AS (sekitar Rp1.063,5 triliun), dan menegaskan bahwa sudah waktunya untuk “mengajari Kanada” bahwa mereka tidak bisa lagi “melakukan hal ini.”
Ia juga menyatakan bahwa AS tidak bergantung pada sumber daya Kanada. Menurutnya, meski kehilangan akses terhadap sejumlah barang mungkin “sedikit merepotkan”, Washington dapat memperoleh barang-barang tersebut dari tempat lain.
Trump mengatakan dirinya sebelumnya telah menawarkan kesepakatan yang cukup baik sebelum perundingan terbaru antara kedua negara mengalami kebuntuan.
Adapun serangan verbal tersebut muncul setelah perang dagang AS-Kanada mengalami eskalasi signifikan. Pada 22 Agustus, AS memberlakukan tarif 50 persen terhadap berbagai barang Kanada, sementara tarif tambahan sebesar 50 persen untuk sektor otomotif dan baja akan mulai berlaku pada 1 Januari.
Sebagai tanggapan, Kanada mengumumkan tarif balasan berkisar antara 15 persen hingga 50 persen terhadap impor dari AS senilai 27,6 miliar dolar Kanada (Rp352 triliun), yang akan mulai berlaku pada 8 September.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Trump kritik Kanada di tengah sengketa tarif perdagangan
Baca juga: Kanada umumkan tarif balasan terhadap 700 lebih jenis barang AS
Baca juga: PM Carney: Tarif baru AS dirancang untuk memecah belah Kanada
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.