Trump Buka Dokumen Rahasia soal Dugaan Campur Tangan China di Pemilu AS, Klaimnya Langsung Dipatahkan Intelijen
Menurut Trump, pemerintah China diduga memperoleh sekitar 220 juta data pemilih Amerika, termasuk nama, alamat, dan informasi lain yang digunakan dalam proses pendaftaran pemilih.
Trump juga menuding sejumlah pejabat intelijen Amerika sengaja menyembunyikan informasi mengenai aktivitas China tersebut dari publik.
Bertentangan dengan Laporan Intelijen AS
Klaim Trump langsung memunculkan kontroversi karena berbeda dengan laporan resmi komunitas intelijen Amerika Serikat yang dirilis pada 2021.
Dalam laporan tersebut, badan-badan intelijen AS menyimpulkan tidak ada indikasi bahwa aktor asing berhasil ataupun berupaya mengubah aspek teknis Pemilu Presiden 2020, termasuk daftar pemilih, surat suara, proses penghitungan maupun hasil akhir pemungutan suara.
Penilaian itu dilakukan ketika John Ratcliffe, yang saat itu menjabat Direktur Intelijen Nasional dan kini menjadi Direktur CIA, memimpin proses evaluasi.
Laporan tersebut memang mengakui bahwa China telah lama mengumpulkan informasi mengenai pemilih Amerika, partai politik, kandidat, hingga opini publik sejak setidaknya 2008. Namun, aktivitas itu dinilai lebih bertujuan untuk menganalisis dinamika politik dan memprediksi hasil pemilu, bukan mengubah hasil pemungutan suara.
Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut juga menyebut data pemilih yang dikumpulkan China bukanlah informasi rahasia karena data serupa dapat diperoleh secara legal dan kerap dibeli oleh konsultan politik di Amerika Serikat.
Trump Kembali Soroti Keamanan Pemilu
Dalam pidatonya, Trump kembali mendesak Kongres meloloskan SAVE America Act, rancangan undang-undang yang mewajibkan penggunaan kartu identitas berfoto saat memilih, bukti kewarganegaraan Amerika Serikat ketika mendaftar sebagai pemilih, serta membatasi penggunaan surat suara melalui pos.
Partai Demokrat dan kelompok pegiat hak pilih menilai aturan tersebut justru berpotensi membatasi hak warga negara untuk memberikan suara.
RUU tersebut telah beberapa kali disetujui oleh DPR Amerika Serikat yang dikuasai Partai Republik, namun masih tertahan di Senat karena tidak memperoleh dukungan yang cukup untuk mengatasi filibuster Partai Demokrat.
Dokumen yang Dibuka Dinilai Tidak Mendukung Klaim Trump
Sejumlah dokumen intelijen yang dipublikasikan justru dinilai tidak memperkuat tuduhan Trump.
Salah satu dokumen CIA membahas pemilu Venezuela, bukan pemilu Amerika Serikat.
Dokumen lain bahkan menyatakan sistem penghitungan suara di Amerika Serikat sangat sulit dimanipulasi dalam skala besar sehingga hampir mustahil mengubah hasil pemilu secara keseluruhan.
Sementara dokumen lainnya mengungkap upaya intelijen China memantau kampanye Presiden Joe Biden, tetapi juga menyebut Beijing saat itu tidak berniat melakukan intervensi rahasia untuk memengaruhi hasil pemilu.
Demokrat Sebut Tuduhan Trump Tidak Berdasar
Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS dari Partai Demokrat, Mark Warner, menolak keras tuduhan Trump.
Menurutnya, seluruh lembaga intelijen Amerika telah sepakat bahwa China tidak pernah berupaya mengubah satu pun suara pada Pemilu Presiden 2020.
Warner menyebut klaim Trump mengenai dugaan campur tangan China sebagai tuduhan yang tidak didukung bukti.
Isu Pemilu Diangkat di Tengah Tekanan Politik
Pidato Trump disampaikan ketika tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya menghadapi tekanan akibat meningkatnya harga energi dan dampak perang dengan Iran.
Meski sempat menyinggung konflik Iran dengan mengatakan Amerika Serikat "sedang berada di posisi menang", sebagian besar pidatonya difokuskan pada isu keamanan pemilu menjelang pemilu sela (midterm election) yang akan digelar pada November mendatang.
Dalam pemilu tersebut, Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis mereka di Kongres, sementara Partai Demokrat hanya membutuhkan tambahan beberapa kursi untuk merebut kembali kendali DPR Amerika Serikat.
Di sisi lain, pernyataan keras Trump mengenai China juga berpotensi memengaruhi hubungan kedua negara yang mulai membaik setelah perang dagang beberapa waktu lalu. Trump sendiri dijadwalkan mengupayakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada September mendatang untuk membahas kerja sama perdagangan.
Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington membantah seluruh tuduhan tersebut.
"China tidak pernah dan tidak akan pernah mencampuri pemilihan presiden Amerika Serikat," kata juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Chang.
Sumber: JPost