Transformasi Arah Bisnis Menuju Hilirisasi Komoditas, PTPN I Undang Investor Berkolaborasi
Jumat, 25 September 2026 - 21:32 WIB
Jakarta, VIVA – PTPN I (Persero) mulai bertransformasi mengarahkan kultur bisnisnya menuju pengembangan produk bernilai tambah, setelah puluhan tahun bertumpu pada sektor hulu dan komoditas primer.
Baca Juga
Direktur Utama PTPN I (Persero), Abdul Rivai Ras mengatakan, upaya itu akan dilakukan melalui kolaborasi dengan para investor dan mitra strategis yang memiliki kompetensi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"PTPN I (Persero) membuka peluang hilirisasi berbagai komoditas mulai dari teh, kopi, kelapa, kakao, karet hingga tembakau," kata Abdul Rivai dalam keterangannya, Jumat, 25 September 2026.
Baca Juga
Ilustrasi kebun teh.
Photo :
- Dok. Istimewa
Dalam Business Gathering PTPN I di Kawasan Puncak, Bogor, hadir pula puluhan pelaku usaha dan calon mitra strategis untuk menjajaki berbagai peluang investasi dan pengembangan bisnis.
Baca Juga
Pada kesempatan itu, Abdul Rivai mengatakan bahwa PTPN I (Persero) memiliki mandat untuk mengambil peran dalam mendorong agenda hilirisasi nasional. Karenanya, perseroan terus membuka ruang kolaborasi dengan pihak yang memiliki teknologi, jaringan pasar, kompetensi, maupun kapasitas investasi.
“PTPN I (Persero) punya aset besar, komoditas beragam, infrastruktur cukup, tapi belum punya produk end user yang kompetitif. Kalau ada ujaran ‘kerbau punya susu, sapi punya nama’, mungkin itu kami," kata Abdul Rivai.
"Teh, kopi, tembakau, cerutu, kakao kami kualitas dunia, tetapi yang familiar malah merek lain. Karet juga begitu. Merek-merek ban kelas grand prix itu banyak dipasok dari karet kita. Nah, makanya hari ini kami mengundang para investor untuk kolaborasi,” ujarnya.
Menurutnya, peluang kerja sama tidak hanya terbuka pada pengembangan produk konsumen dan manufaktur, tapi juga optimalisasi aset tetap perusahaan. PTPN I (Persero) memiliki lahan dan aset yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi hingga kawasan Indonesia Timur.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Aset tersebut memiliki beragam potensi pengembangan, antara lain properti, pariwisata, hospitality, pusat bisnis, ruang komersial hingga pengembangan kawasan.
“Aset tetap kami, terutama lahan, itu sangat kompetitif. Karena sudah dalam penguasaan sejak lama. Selain luas, posisinya sekarang juga sangat dekat dengan pusat-pusat pertumbuhan dan keramaian. Aset untuk destinasi wisata juga umumnya sangat indah. Ini juga harus dikembangkan bersama investor,” ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Abdul Rivai menilai, dunia usaha saat ini bergerak dalam ekosistem yang semakin terkoneksi. Korporasi dituntut adaptif terhadap perubahan, sekaligus terbuka terhadap kolaborasi dan transfer pengetahuan.