Terungkap Taktik China Mata-Matai Warga Dunia 24 Jam Penuh

Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah temuan mengejutkan mengungkap sejauh mana otoritas China melakukan pengawasan (surveillance) terhadap warga negara asing (WNA). Pergerakan turis, jurnalis, hingga mahasiswa asing terpantau secara real-time hingga ke detail transaksi dan nomor kursi kereta.

Skandal ini terbongkar secara tidak sengaja oleh Marc Hofer (46), seorang peneliti keamanan siber dan jurnalis asal Amsterdam yang menjadi koresponden di China. Saat melakukan pemindaian rutin awal tahun ini, Hofer menemukan sebuah situs terbuka bernama "Dynamic Control Platform for Overseas Personnel".

Platform buatan China ini memiliki tampilan futuristik bak adegan dalam film sci-fi Minority Report, yang didesain khusus untuk melacak keberadaan warga asing di Zhangjiakou, kota tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022 sekaligus destinasi ski populer di China.

Data Intelijen Bocor ke Publik

Ironisnya, sistem canggih berisi data sensitif tersebut bisa diakses publik. Kredensial login sudah terisi secara otomatis saat halaman situs dibuka.

Saat menjelajahi dasbor tersebut, Hofer terkejut mendapati foto dirinya beserta nomor paspor dan nomor telepon yang pernah ia gunakan di China.

"Siapa pun yang memasukkan data ke sana memiliki akses ke data asli," ujar Hofer, dikutip dari The New York Times, Senin (3/8/2026).

Dasbor pemantau ini memuat hampir 12.000 entri data. Kategori yang dipantau sangat spesifik, mulai dari:

Tak sekadar data statis seperti nama dan nomor paspor, sistem ini mengintegrasikan pengenalan wajah (facial recognition) dengan riwayat medis, transaksi pembayaran gas, nomor rekam medis, hingga nomor kursi pesawat dan kereta api.

Buntut "Sprawl Surveillance" dan Proyek Vendor Polisi

Berdasarkan penelusuran The New York Times, platform ini terhubung dengan Origin Dynamic, sebuah perusahaan asal Beijing penyedia teknologi robotika dan sistem pengawasan untuk kepolisian China. Perusahaan ini diketahui sebagian sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Yancheng, Provinsi Jiangsu.

Origin Dynamic bahkan sempat mengajukan paten pada 2023 untuk "antarmuka informasi warga non-China" yang desainnya identik dengan platform Zhangjiakou tersebut.

Penyelidik Senior SecDev Group, Greg Walton, menilai kebocoran ini adalah dampak dari gurita pengawasan (surveillance sprawl) yang ugal-ugalan di China. Keterlibatan vendor swasta, kontraktor, dan instansi polisi yang terlalu luas justru menciptakan celah keamanan baru.

"Setiap ada platform baru, makin banyak titik di mana data pribadi sensitif bisa salah konfigurasi, tersalin, atau terekspos ke luar," jelas Walton.

Diskriminasi Agama hingga Pelacakan Hubungan Sosial

Sistem ini tidak hanya melacak lokasi, tetapi juga mengelompokkan identitas personal secara mendalam. Profil mahasiswa asing di Hebei North University, misalnya, turut mencantumkan data agama, status pernikahan, hingga memetakan jaringan pertemanan.

Jika tiga orang WNA tertangkap kamera berjalan bersama di area publik, sistem AI akan secara otomatis menarik garis hubungan (relationship network) di antara ketiganya.

Pakar HAM Human Rights Watch, Maya Wang, menegaskan bahwa tingkat integrasi data sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya di negara lain.

"Ini mengilustrasikan betapa China sama sekali tidak memiliki hukum perlindungan privasi atau jaminan perlindungan dari kesewenang-wenangan aparat," tegas Wang.

Sejak temuan Hofer mencuat dan diunduh pada Januari lalu, platform tersebut akhirnya ditutup total (offline) oleh pihak berwenang China pada Mei. Hingga berita ini diturunkan, pihak Origin Dynamic maupun Kepolisian Zhangjiakou menolak memberikan komentar.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]