◐

Sutradara Film NAZA Kecam AS karena Danai Penghancuran Gaza oleh Israel |Republika Online

JAKARTA -- Sutradara dokumenter NAZA, Yuval Abraham, mengecam pemerintah Amerika Serikat (AS) karena turut mendanai penghancuran Gaza oleh Israel. Kritik itu disampaikan Abraham saat pemutaran film di Amerika Utara dalam gelaran New York Film Festival (NYFF).

Pemutaran NAZA di NYFF mendapat sambutan meriah. Para penonton memberikan standing ovation kepada dua sutradara film tersebut, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Keduanya kemudian mengikuti sesi tanya jawab singkat bersama Direktur Festival New York, Dennis Lim.

Abraham, yang juga merupakan seorang jurnalis, mengatakan bahwa pemutaran NAZA di NYFF penting karena Amerika Serikat telah menyalurkan miliaran dolar kepada pemerintah Israel serta memasok bantuan militer yang digunakan untuk membunuh rakyat Palestina.

"Penting bagi kita untuk menonton film ini pada saat para pejabat di Amerika membicarakan apa yang dilakukan dengan uang pajak dari orang-orang yang duduk di sini. Inilah yang didukung dan didanai oleh negara Anda," kata Abraham dilansir laman Variety, Ahad (27/9/2026).

Suasana di dalam teater juga dilaporkan terasa emosional. Sejumlah penonton terlihat menyeka air mata setelah menyaksikan rekaman kehancuran Gaza yang ditampilkan dalam film dokumenter tersebut.

Film NAZA mengangkat kesaksian 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel, yang identitasnya dirahasiakan, mengenai operasi militer di Gaza. Film ini memperlihatkan secara rinci sistem yang berada di balik operasi pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza, NAZA dibuat secara rahasia selama sekitar tiga tahun.

Judul film ini diambil dari istilah eufemisme intelijen berbahasa Ibrani yang digunakan untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil Gaza yang akan meninggal dalam suatu serangan udara. Menurut sumber militer IDF, sistem berbasis Al yang dikenal sebagai Lavender memanfaatkan jaringan telekomunikasi Gaza termasuk panggilan telepon, pergerakan, dan berbagai interaksi, untuk mengidentifikasi target pembunuhan.

Salah satu sumber menggambarkan proses tersebut dilakukan dalam skala massal seperti sebuah pabrik. Narasumber lain yang terlibat dalam identifikasi target mengatakan proses itu seperti video game. "Prosesnya seperti permainan video, karena semuanya dilakukan dari jarak jauh dan terasa sangat menyenangkan," kata sumber militer Israel perihal teknologi Al yang dirancang guna membunuh warga Gaza.

Beberapa sumber juga berbicara mengenai penghancuran rumah warga sipil, pengabaian terhadap hukum kemanusiaan, serta suasana umum yang penuh kebencian terhadap warga Palestina. Film produksi The Guardian ini dijadwalkan tayang di bioskop lebih dari 50 negara. Selain Amerika Serikat, perilisan NAZA akan mencakup Inggris, Australia, Spanyol, Selandia Baru, Prancis, Jerman, Jepang, Kanada, Hong Kong, Brasil, Turki, Thailand, Indonesia dan lainnya.

Setelah masa penayangan di bioskop berakhir, NAZA akan tersedia secara gratis melalui situs The Guardian. Langkah itu diambil sebagai bagian dari komitmen mereka untuk menyebarluaskan jurnalisme independen.

Di tengah respons positif terhadap film tersebut, Abraham dan Szor menghadapi kecaman serta ancaman di Israel. Pekan lalu, Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, mengancam akan mencabut kewarganegaraan dua sutradara film dokumenter NAZA. Zohar menuduh kedua sineas tersebut telah mengkhianati negara, sehingga layak untuk dicabut kewarganegaraannya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga tengah mengupayakan undang-undang baru yang memungkinkan Israel mencabut kewarganegaraan orang yang menjelek-jelekkan tentara Israel dan mencemarkan nama baik Israel. Dalam pernyataan, Abraham dan Szor mengatakan mereka membuat film tersebut karena merasa berkewajiban menggunakan posisi mereka sebagai warga Israel untuk mengkaji sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza.

"Kami membuat film ini karena merasa berkewajiban untuk menggunakan posisi kami sebagai warga Israel guna menelaah sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina, yang menjadi tanggung jawab negara kami," kata keduanya.