Studi Ungkap Kurangi Asupan Protein Berpotensi Perlambat Penuaan

Liputan6.com, Washington D.C - Sebuah ulasan yang diterbitkan pada 31 Juli di jurnal Cell Press Blue mengkaji bagaimana pengurangan asupan protein dapat mempengaruhi proses penuaan. 

Dikutip dari Science Daily, Senin (3/8/2026), para peneliti menyimpulkan bahwa pembatasan asupan protein dapat meningkatkan metabolisme, mengubah cara sel merespons nutrisi, membatasi kerusakan sel, dan membantu sel mempertahankan fungsi normalnya.

“Tentunya jelas sekali bahwa protein memiliki manfaat bagi pertumbuhan otot dan respons terhadap olahraga individu yang aktif,” tutur penulis koresponden penelitian tersebut, Dudley Lamming dari University of Wisconsin-Madison. “Namun, karena kebanyakan orang relatif kurang aktif secara fisik, banyak di antara mereka mengonsumsi lebih banyak protein dari yang mereka butuhkan, yang kemungkinan nantinya memiliki efek negatif bagi kesehatan.”

Para peneliti sudah mengetahui sejak lama bahwa mengurangi konsumsi kalori dapat memperpanjang usia hidup pada banyak organisme dan menurunkan risiko penyakit yang berkaitan dengan penuaan seperti kanker. Namun, dalam praktiknya, menjaga pola makan untuk jangka waktu yang lama sangat sulit untuk kebanyakan orang.

Pembatasan asupan protein mungkin bisa menjadi alternatif lain. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa lalat dan hewan pengerat hidup lebih lama ketika mereka tidak mengonsumsi lebih sedikit protein, walaupun asupan kalori total mereka tidak berkurang.

Selain itu, uji klinis yang dilakukan baru-baru ini juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Orang-orang yang mengurangi asupan proteinnya berhasil menurunkan berat badan dan lemak tubuh serta menunjukkan perbaikan kadar gula darah puasa, meskipun sering kali mengonsumsi lebih banyak kalori secara keseluruhan. 

Bukti yang ditemukan tidak hanya dari satu pihak. Penelitian lain mengindikasikan asupan protein lebih tinggi bisa mendukung penurunan berat badan dan membantu lansia menjaga massa otot, terutama jika dibarengi dengan olahraga.

Hasil-hasil tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pembaruan pedoman gizi AS tahun ini. Rekomendasi baru tersebut menganjurkan konsumsi protein harian sebesar 1,2-1,6 gram per kilogram berat badan, hampir dua kali lipat dari jumlah sebelumnya.

Seiring dengan meningkatnya konsumsi protein di kalangan masyarakat AS dan semakin banyaknya anjuran bagi lansia untuk menambah asupan protein mereka, Lamming dan rekannya menelaah bukti-bukti yang terkumpul selama beberapa dekade untuk memahami lebih baik hubungan antara protein, metabolisme, dan penuaan.

Analisis mereka terhadap lebih dari 350 penelitian berhasil mengidentifikasi beberapa mekanisme biologis yang berulang dan dapat menjelaskan mengapa pembatasan asupan protein mungkin dapat meningkatkan kesehatan dan memperpanjang usia. Secara keseluruhan, studi tersebut menunjukkan bahwa asupan protein yang lebih rendah dikaitkan dengan fungsi metabolik yang lebih baik, perubahan sinyal nutrisi, berkurangnya kerusakan sel, dan pemeliharaan sel-sel sehat yang lebih baik.