Soal Utang: Indonesia Mendekat Lagi ke AS, China Ditinggal?
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
21 October 2026 11:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Utang luar negeri Indonesia dari Amerika Serikat (AS) dan China bergerak berlawanan pada Agustus 2026. Utang dari AS bertambah, sedangkan dari China menyusut. Namun, jika dilihat dari mata uangnya, utang dalam yuan justru terus membesar hingga mendekati US$20 miliar.
Pergerakan tersebut tercatat dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Oktober 2026 yang dirilis Bank Indonesia (BI), Kamis (15/10/2026).
Secara keseluruhan, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$459,27 miliar pada Agustus 2026. Jumlahnya bertambah US$3,12 miliar atau 0,68% dibandingkan Juli yang sebesar US$456,16 miliar.
Dibandingkan Agustus 2025, ULN Indonesia bertambah US$24,44 miliar atau 5,62%.
Kenaikan pada Agustus terutama berasal dari pemerintah dan bank sentral. Sebaliknya, sektor swasta kembali mengurangi posisi utangnya.
ULN pemerintah naik US$2,47 miliar menjadi US$220,86 miliar. Utang bank sentral bertambah US$956,7 juta menjadi US$42,85 miliar.
Sementara itu, ULN swasta turun US$311,4 juta menjadi US$195,56 miliar.
Dalam perbandingan tahunan, ULN pemerintah tumbuh 3,28%, sedangkan utang bank sentral meningkat 79,39%. Utang swasta justru menyusut 0,78%.
Utang dari AS Bertambah, China Justru Berkurang
Jika melihat sumber pemberi utang dari dua negara dengan ekonomi terbesar dunia, AS masih berada di depan China. Pada Agustus, jarak keduanya kembali melebar.
Posisi utang Indonesia dari AS mencapai US$29,65 miliar, naik US$168,8 juta atau 0,57% dibandingkan Juli yang sebesar US$29,49 miliar.
China bergerak ke arah sebaliknya. Utang Indonesia dari negara tersebut turun US$163 juta atau 0,62%, dari US$26,19 miliar menjadi US$26,03 miliar.
Dua pergerakan itu membuat selisih utang dari AS dan China membesar. Pada Juli, jaraknya masih sekitar US$3,29 miliar. Sebulan kemudian, selisihnya mencapai US$3,63 miliar.
Dalam setahun terakhir, pertumbuhan utang dari AS juga lebih cepat.
Dibandingkan Agustus 2025, utang Indonesia dari AS bertambah US$3,31 miliar atau 12,55%. Pada periode yang sama, utang dari China meningkat US$928 juta atau 3,70%.
Namun, sebagian besar utang dari kedua negara tersebut bukan berada di tangan pemerintah, melainkan perusahaan swasta.
Dari total utang Indonesia dari AS, sebanyak US$29,39 miliar atau sekitar 99,1% merupakan utang swasta. Porsi pemerintah hanya US$265,2 juta, sedangkan bank sentral tidak memiliki utang dari negara tersebut.
Kenaikan pada Agustus pun berasal dari swasta yang menambah posisi utang US$182,3 juta. Sebaliknya, utang pemerintah dari AS berkurang US$13,5 juta.
Komposisi utang dari China tidak jauh berbeda. Swasta menanggung US$24,70 miliar atau sekitar 94,9% dari totalnya. Sisanya, US$1,33 miliar, merupakan utang pemerintah.
Penurunan utang dari China berasal dari swasta yang mengurangi posisi utangnya US$173 juta. Pada saat bersamaan, utang pemerintah justru bertambah sekitar US$10 juta.
Utang dalam Yuan Mendekati US$20 Miliar
Meski utang dari China turun, posisi utang Indonesia dalam yuan kembali meningkat.
Keduanya memang memiliki perbedaan. Negara kreditur menunjukkan asal pemberi pinjaman, sedangkan mata uang menunjukkan denominasi utangnya. Pinjaman dari China belum tentu menggunakan yuan, begitu pula utang dalam yuan belum tentu seluruhnya berasal dari kreditur China.
Pada Agustus 2026, ULN Indonesia dalam yuan mencapai nilai setara US$19,95 miliar dan kembali menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Jumlah tersebut bertambah US$111,8 juta atau 0,56% dibandingkan Juli yang sebesar US$19,84 miliar.
Kenaikan bulanannya memang tidak besar. Namun, perubahannya jauh lebih terlihat jika dibandingkan setahun sebelumnya.
Pada Agustus 2025, utang Indonesia dalam yuan masih sebesar US$12,11 miliar. Dalam setahun, nilainya bertambah US$7,84 miliar atau melonjak 64,79%.
Tambahan pada Agustus terutama berasal dari swasta. Posisi utang swasta dalam yuan naik US$99,8 juta menjadi US$16,80 miliar.
Sementara itu, utang pemerintah dalam yuan bertambah sekitar US$12 juta menjadi US$3,15 miliar.
Yuan kini menyumbang sekitar 4,34% dari total ULN Indonesia. Porsinya masih jauh di bawah dolar AS, tetapi nilainya sudah melampaui utang dalam yen Jepang yang sebesar US$18,31 miliar.
Dolar AS tetap mendominasi dengan nilai US$270,17 miliar. Namun, berbeda dengan yuan, posisi utang dalam dolar AS justru turun US$1,31 miliar selama Agustus.
Perubahan posisi utang menurut mata uang ini tidak selalu mencerminkan penarikan atau pembayaran pinjaman saja. Nilainya yang disajikan dalam dolar AS juga dapat berubah mengikuti pergerakan kurs.
Singapura Tetap Jadi Nomor 1, tetapi Terus Menyusut
Di antara negara kreditur, Singapura masih menempati posisi teratas.
Utang Indonesia dari negara tersebut mencapai US$51,19 miliar pada Agustus 2026. Nilainya masih jauh di atas AS dan China, meski kembali berkurang US$614,3 juta dibandingkan Juli.
Dalam setahun terakhir, penurunannya mencapai US$4,88 miliar atau 8,71%.
Setelah Singapura, AS berada di posisi kedua dengan US$29,65 miliar, disusul China sebesar US$26,03 miliar.
Jepang menempati urutan keempat dengan US$20,97 miliar, naik US$346,5 juta dalam sebulan. Hong Kong menyusul dengan US$20,61 miliar setelah bertambah US$222,7 juta.
Kenaikan cukup besar juga terlihat pada utang dari Prancis. Nilainya bertambah US$399,4 juta atau 4,44% menjadi US$9,39 miliar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)