◐

Siswa SD dan warga Bantul salat Istisqa akibat krisis air bersih

Siswa SD dan warga Bantul salat Istisqa akibat krisis air bersih

Jumat, 9 Oktober 2026 03:50 WIB

Image Print

Para siswa melaksanakan salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di halaman SD Muhammadiyah Geger, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (7/10/2026). ANTARA/HO-LAZISMU Kotagede

Yogyakarta (ANTARA) - Siswa SD Muhammadiyah Geger bersama warga Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar salat Istisqa berjamaah bersama LAZISMU Kotagede sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan, akibat krisis air bersih.

Krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan tersebut menyebabkan sumber mata air utama warga mengering, sehingga para siswa dan masyarakat terpaksa bertayamum karena tidak dapat berwudhu.

"Anak anak sekolah terpaksa harus bertayyamum tidak bisa berwudhu, karena keterbatasan air," kata Wakil Kepala Kantor dan Fundraising LAZISMU Kotagede Asyam Rafi di Yogyakarta, Kamis.

Asyam menjelaskan salat Istisqa yang diikuti 130 peserta dari siswa, guru, dan warga sekitar di Halaman SD Muhammadiyah Geger, Pundong, pada Rabu (7/10) karena melihat situasi dan kondisi ketersediaan air bersih di lokasi setempat.

"Kemarau berkepanjangan telah menyebabkan mata air utama warga mengalami kekeringan total," ujarnya.

Ia menjelaskan salat Istisqa merupakan ikhtiar sesuai syariat Islam dengan melaksanakan dua rakaat, yakni tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.

Pada salat istisqa, lanjut Asyam, imam salat membalikkan jas yang dikenakannya sebagai simbol pengharapan agar keadaan berbalik dari kekeringan, kemarau, dan kesulitan menjadi kesuburan, kelimpahan air, serta keberkahan bagi bumi.

"Prosesi membalikkan pakaian (tahwilul rida') ini dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat Islam," katanya.

Seusai salat dilanjutkan dengan khutbah dan mengajak para jemaah memperbanyak istighfar serta muhasabah atas musibah kekeringan yang terjadi.

Warga Dusun Geger, Kapanewon Pundong, tambah Asyam, biasanya mengandalkan mata air yang dipompa menggunakan mesin penyedot untuk dialirkan ke rumah warga, namun, sumber mata air tersebut saat ini hanya mengalir dengan debit yang sangat kecil.

"Krisis air ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih bahkan sekadar untuk bersuci, sebagian warga juga terpaksa harus melakukan tayammum (untuk bersuci, red.)," katanya.

Menurut dia, LAZISMU Kotagede telah menyalurkan lebih dari 40 truk tangki air bersih ke berbagai wilayah yang terdampak kekeringan parah di beberapa desa di Kabupaten Gunungkidul.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026