Simposium Nasional Yogyakarta memperkuat pengembangan ideologi Pancasila
Simposium Nasional Yogyakarta memperkuat pengembangan ideologi Pancasila
Senin, 27 Juli 2026 19:32 WIB
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi pada Simposium Nasional Pendidikan Pancasila di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Senin (27/7/2026). ANTARA/HO-Humas UIN Sunan Kalijaga.
Yogyakarta (ANTARA) - Simposium Nasional Pendidikan Pancasila yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI sebagai upaya memperkuat pengembangan ideologi Pancasila.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ideologi Pancasila melalui pendekatan keilmuan yang menjadi identitas kampus," kata Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Noorhaidi Hasan pada pembukaan Simposium di Yogyakarta, Senin.
Hal tersebut sejalan dengan tema "Melalui Integrasi Ilmu, Spiritualitas, dan Kebangsaan: Penguatan Ideologi Pancasila dalam Perspektif Integratif, Interkonektif, dan Transformatif" dalam Simposium Nasional secara hybrid yang diikuti sekitar 250 peserta secara luring itu.
Rektor mengatakan, Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi tidak lagi cukup diajarkan sebagai materi hafalan ataupun sekadar mata kuliah wajib.
"Nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan sebagai landasan etik yang membentuk cara berpikir, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menyelesaikan persoalan masyarakat," katanya.
Ketua Panitia Simposium Prof Eva Latipah mengatakan, tantangan terbesar Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi bukan lagi pada kemampuan mahasiswa menghafal lima sila, melainkan bagaimana nilai-nilai itu diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun praktik profesional.
Menurut dia, Pendidikan Pancasila harus bergeser dari pendekatan normatif menuju pembelajaran yang mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan persoalan nyata di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, teknologi, ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
"Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal Pancasila. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sekaligus menjadi landasan etis dalam setiap disiplin ilmu," kata Direktur Centre for Integrative, Interconnected, and Transformative Studies (CIINTRA) UIN Sunan Kalijaga tersebut.
Pihaknya terus mengembangkan paradigma integratif, interkonektif, dan transformatif, yaitu mempertemukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kebudayaan dalam satu kerangka keilmuan yang utuh.
"Ilmu harus mentransformasikan cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan persoalan masyarakat. Melalui simposium ini kami berharap lahir model Pendidikan Pancasila yang integratif sehingga nilai-nilainya hadir dalam seluruh bidang keilmuan," katanya.
Kepala BPIP Prof Yudian Wahyudi mengatakan, kemunduran suatu bangsa terjadi ketika ilmu pengetahuan dan teknologi dipisahkan dari nilai-nilai agama, dan sebaliknya, kemajuan hanya dapat dicapai melalui integrasi antara penguasaan sains, riset, dan moralitas.
Dia mengatakan, sejarah peradaban Islam di Andalusia yang mengalami kemunduran ketika tradisi keilmuan eksperimental dan teknologi ditinggalkan harus jadi pembelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa melepaskan fondasi nilai-nilai Pancasila dan agama.
"Ilmu, agama, dan riset harus berjalan bersama. Bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi bangsa yang memimpin peradaban," katanya.
BPIP berharap, UIN Sunan Kalijaga yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga sains, teknologi, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat harus menjadi fondasi penting mewujudkan visi Indonesia sebagai bangsa maju di masa depan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Simposium Nasional Yogyakarta perkuat pengembangan ideologi Pancasila
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026