Seusai lima emas
Karena itu, lima emas dari Aichi layak dirayakan. Atlet telah memenuhi bahkan melewati sasaran nasional dalam kondisi persiapan yang tidak seluruhnya ideal.
Jakarta (ANTARA) - Lima emas membuat Indonesia pulang dari Aichi-Nagoya dengan satu kalimat yang mudah dijual: target terlampaui.
Secara angka, tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Indonesia menutup Asian Games 2026 dengan lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Target empat emas yang dipatok sebelum keberangkatan terlewati satu keping.
Total 39 medali juga lebih banyak dibandingkan 36 medali yang diperoleh pada Asian Games Hangzhou 2022.
Namun prestasi olahraga tidak semestinya dibaca hanya berdasarkan apakah sebuah target berhasil dilewati atau tidak.
Empat tahun lalu Indonesia membawa pulang tujuh emas dan finis di peringkat ke-13. Dari Aichi-Nagoya, emas berkurang menjadi lima dan posisi Indonesia turun ke urutan ke-16 meski jumlah keseluruhan medali bertambah.
Artinya, kalimat “melampaui target” memang benar. Tetapi menyamakannya dengan peningkatan prestasi adalah perkara lain.
Target empat emas lahir dari hilangnya tiga nomor penyumbang emas di Hangzhou, yakni dua running target menembak dan satu perahu naga.
“Artinya kita hari ini hanya bisa menargetkan empat emas,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir ketika itu.
Perhitungannya realistis, tetapi olahraga prestasi tidak berhenti pada matematika tujuh dikurangi tiga.
Empat tahun adalah waktu untuk mencari sumber emas baru, membangun regenerasi, membaca perubahan kekuatan Asia, dan mengembangkan nomor yang sebelumnya belum menjadi andalan.
Indonesia sebenarnya membuktikan bahwa itu mungkin. Nurisa Dian Ashrifah, misalnya, menghadirkan emas dari panahan compound individu putri, sebuah sumber emas baru bagi Indonesia di Asian Games. Bulu tangkis juga bangkit dengan dua emas setelah gagal membawa pulang medali dari Hangzhou.
Karena itu, target seharusnya menjadi alat ukur, bukan batas imajinasi prestasi.
Persoalan yang lebih mendasar justru muncul ketika hasil Asian Games mulai dipakai untuk mengevaluasi cabang olahraga.
Pada 23 September, saat Asian Games baru memasuki hari kelima, Erick sudah menyatakan pemerintah mulai melihat apakah pencapaian di lapangan sesuai dengan target yang telah disepakati bersama setiap cabang.
Pendekatan itu pada dasarnya tepat. Uang negara harus dipertanggungjawabkan. Federasi yang mendapatkan dukungan pelatnas tidak mungkin terus-menerus meminta anggaran tanpa target yang jelas.
Pengurus, pelatih, atlet hingga program latihan memang harus dinilai berdasarkan hasil.
Masalahnya, evaluasi akan kehilangan keadilan apabila hanya melihat apa yang terjadi di garis akhir tanpa memeriksa bagaimana setiap cabang sampai ke sana.
Sebab jalan Indonesia menuju Aichi-Nagoya jauh dari lurus.
Baca juga: Sayonara, Nagoya!
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.