Sering dianggap sepele, ini dia 11 tanda gula darah tinggi
Gula darah tinggi atau hiperglikemia sering kali berkembang secara perlahan sehingga banyak orang tidak menyadari gejalanya. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda awal diabetes dan berisiko menimbulkan komplikasi serius bila tidak segera ditangani.
Kelebihan kadar gula dalam darah membuat tubuh kesulitan menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Akibatnya, berbagai organ mulai terpengaruh dan memunculkan beragam gejala, mulai dari rasa haus yang terus-menerus hingga gangguan pada saraf.
Jika dibiarkan dalam waktu lama, hiperglikemia dapat merusak pembuluh darah, saraf, mata, ginjal, hingga jantung. Berikut 11 tanda gula darah tinggi yang perlu diwaspadai dilansir Very Well Health, Jumat (10/7).
1. Haus berlebihan
Rasa haus yang terus muncul meski sudah banyak minum merupakan salah satu tanda paling umum gula darah tinggi. Kondisi ini terjadi karena ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan glukosa melalui urine, sehingga tubuh kehilangan banyak cairan dan memicu dehidrasi.
2. Sering buang air kecil
Peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari, juga bisa menjadi tanda hiperglikemia. Ginjal menarik lebih banyak air dari jaringan tubuh untuk membantu mengeluarkan gula berlebih melalui urine.
3. Mudah lapar
Meski kadar gula dalam darah tinggi, sel-sel tubuh tidak dapat memanfaatkannya sebagai energi akibat kekurangan atau gangguan kerja insulin. Akibatnya, tubuh memberi sinyal lapar karena merasa kekurangan energi.
4. Penglihatan kabur
Kadar gula darah yang tinggi dapat menarik cairan dari lensa mata sehingga kemampuan mata untuk fokus terganggu. Akibatnya, penglihatan menjadi kabur atau tidak jelas.
5. Mudah lelah
Tubuh membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Ketika glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel, tubuh akan kekurangan energi sehingga penderita lebih mudah merasa lemas, lesu, dan mengantuk, terutama setelah mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat.
6. Lebih mudah terkena infeksi
Hiperglikemia dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, kadar gula yang tinggi juga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga risiko infeksi meningkat, termasuk infeksi jamur pada area genital.
7. Masalah pada kulit
Kulit yang kering, gatal, serta luka yang sulit sembuh dapat menjadi tanda gula darah tinggi. Sebagian orang juga mengalami acanthosis nigricans, yaitu bercak kulit berwarna lebih gelap, tebal, dan terasa seperti beludru, terutama di leher, ketiak, atau lipatan tubuh. Kondisi ini sering dikaitkan dengan resistensi insulin.
8. Perubahan suasana hati
Sejumlah penelitian menunjukkan kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi suasana hati. Penderita diabetes dengan hiperglikemia lebih berisiko mengalami mudah marah, sedih, atau perubahan emosi lainnya.
9. Sakit perut
Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat merusak saraf pada lambung sehingga pengosongan lambung menjadi lebih lambat (gastroparesis). Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri perut, mual, hingga gangguan pencernaan. Namun, sakit perut juga bisa menjadi tanda ketoasidosis diabetik yang memerlukan penanganan darurat.
10. Berat badan turun tanpa sebab
Penurunan berat badan tanpa disengaja dapat terjadi karena tubuh mulai membakar lemak dan otot sebagai sumber energi saat glukosa tidak dapat dimanfaatkan. Gejala ini sering ditemukan pada penderita diabetes tipe 1, terutama anak-anak.
11. Mati Rasa atau kesemutan
Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf tepi (neuropati perifer). Akibatnya, penderita dapat mengalami mati rasa, kesemutan, nyeri, atau sensasi terbakar pada tangan, kaki, maupun tungkai.
Bahaya komplikasi gula darah tinggi
Hiperglikemia kronis atau gula darah tinggi yang berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan berbagai komplikasi akibat kerusakan pembuluh darah kecil (mikrovaskular) maupun pembuluh darah besar (makrovaskular). Dirangkum dari Health, Jumat (11/7/2026), berikut beberapa komplikasi yang dapat terjadi.
1. Kerusakan mata (Retinopati)
Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah pada retina mata. Kondisi yang dikenal sebagai retinopati diabetik ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan apabila tidak ditangani.
2. Kerusakan ginjal (Nefropati)
Hiperglikemia juga dapat merusak fungsi ginjal secara bertahap. Jika terus berlanjut, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.
3. Kerusakan saraf (Neuropati)
Gula darah tinggi dapat menyebabkan neuropati perifer maupun neuropati otonom. Kerusakan saraf ini dapat memicu mati rasa, kesemutan, nyeri pada kaki dan tangan, hingga mengganggu fungsi organ seperti saluran pencernaan.
4. Penyakit jantung dan penyakit arteri perifer
Hiperglikemia meningkatkan risiko penyakit jantung serta penyakit arteri perifer. Pada penyakit arteri perifer, pembuluh darah menyempit sehingga aliran darah ke lengan dan tungkai menjadi berkurang.
5. Hyperglycemic Hyperosmolar Nonketotic Coma (HHNKC)
HHNKC merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2. Kondisi yang mengancam jiwa ini umumnya terjadi ketika kadar gula darah melebihi 600 mg/dL dan dapat ditandai dengan rasa haus berlebihan, kebingungan, demam tinggi, tubuh lemah, hingga kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. Jika tidak segera ditangani, HHNKC dapat menyebabkan koma hingga kematian.
6. Ketoasidosis diabetik (DKA)
Ketoasidosis diabetik (DKA) lebih sering dialami penderita diabetes tipe 1. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan insulin sehingga menghasilkan keton dalam jumlah tinggi yang membuat darah menjadi lebih asam. Gejala awalnya meliputi rasa haus yang berlebihan dan sering buang air kecil, kemudian dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius sehingga memerlukan penanganan medis segera.
7. Komplikasi kehamilan
Diabetes yang tidak terkontrol selama kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran pada awal kehamilan, preeklamsia, serta kadar gula darah rendah pada bayi baru lahir. Karena itu, American Diabetes Association (ADA) menyarankan penyandang diabetes yang berencana hamil untuk menjaga kadar HbA1c di bawah 6,5 persen sebelum kehamilan.