Sepakat Cerai, Raisya Bawazier Terima Nafkah Rp 120 Juta dari Muhammad Zidan
Jakarta -
Aktris Raisya Bawazier menerima total nafkah pasca-perceraian sebesar Rp 120 juta dari suaminya, Muhammad Zidan. Kesepakatan tersebut disampaikan setelah proses mediasi dalam perkara perceraian keduanya di Pengadilan Agama Jakarta Pusat dinyatakan gagal pada Selasa, 8 September 2026.
Kuasa hukum Muhammad Zidan, Didi Lestarion, mengatakan Rp 120 juta tersebut merupakan total kewajiban nafkah yang diberikan kepada Raisya setelah perceraian. Jumlah itu terdiri atas nafkah iddah sebesar Rp 60 juta dan sisanya merupakan nafkah mut'ah.
"Terakhir Rp 120 juta. Ini saja yang mungkin bisa kami sampaikan," kata Didi Lestarion di Pengadilan Agama Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya apakah Rp 120 juta tersebut merupakan nafkah mut'ah, Didi menjelaskan bahwa nominal tersebut merupakan gabungan dengan nafkah iddah.
"Nafkah, nafkah mut'ah dan iddah," ujar Didi.
Ia menegaskan bahwa nominal Rp 120 juta tersebut bukanlah pemberian per bulan, melainkan total nafkah yang disepakati dalam proses perceraian.
"Nggak, itu yang terakhir. Jadi ketika seorang perempuan diceraikan oleh suaminya, maka kewajiban seorang suami adalah memberikan nafkah mut'ah dan uang iddah. Nah, nafkah iddahnya totalnya Rp 60 juta. Pokoknya total semuanya Rp 120 juta," kata Didi.
Sebelum kesepakatan mengenai nafkah pasca-perceraian tersebut tercapai, persoalan nafkah rumah tangga Raisya dan Zidan sempat menjadi perhatian publik. Raisya sebelumnya mengonfirmasi bahwa dirinya masih menerima nafkah bulanan sebesar Rp 10 juta dari Zidan selama keduanya menjalani pisah rumah.
Meski demikian, Raisya disebut memandang nominal tersebut bukan sebagai persoalan utama dibandingkan dengan berbagai kekecewaan yang muncul dalam perjalanan rumah tangga mereka. Kini dalam proses perceraian, kewajiban nafkah pasca-perceraian tersebut disepakati dengan total nilai Rp 120 juta.
Didi Lestarion juga mengungkap bahwa rumah tangga Raisya dan Zidan sempat diwarnai pertengkaran. Namun, kedua pihak sepakat untuk tidak mengungkap secara terbuka persoalan internal yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga mereka.
Menurut Didi, alasan perceraian yang dicantumkan dalam perkara tersebut merupakan alasan yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, tanpa mengungkap secara vulgar persoalan pribadi keduanya.
"Sebenarnya ada kesalahpahaman dan ada pertengkaran. Tapi pihak Raisya maupun pihak Zidan sudah bersepakat untuk tidak membongkar permasalahan tersebut," kata Didi.
Ia menyebut pertengkaran di antara keduanya juga kerap terjadi melalui WhatsApp maupun sambungan telepon. Menurut Didi, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat perceraian dinilai layak untuk dikabulkan oleh Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
"Kalau pertengkaran melalui WhatsApp, melalui telepon itu sering. Nah, itu yang mengakibatkan perceraian itu layak untuk dikabulkan oleh Pengadilan Agama Jakarta Pusat karena sebab-sebab sesuai dengan Pasal 115 Kompilasi Hukum Islam terpenuhi," ujarnya.
Didi menjelaskan bahwa pada awalnya Raisya disebut tidak meminta untuk diceraikan. Menurut dia, situasi kemudian berkembang setelah muncul isu yang menuduh Zidan berselingkuh.
"Awalnya Raisya ini tidak meminta untuk diceraikan. Tapi kemudian muncul isu-isu yang memfitnah klien kami berselingkuh dan segala macam. Itu yang membuat mungkin Raisya terpancing dan ingin diceraikan, minta talak tiga dan segala macam," tutur Didi.
Meski demikian, Didi mengatakan kedua pihak memilih untuk tidak saling membuka kesalahan masing-masing.
Sebelum permohonan cerai talak diajukan, Didi mengaku sempat berkomunikasi dengan Raisya. Dalam pembicaraan tersebut, menurutnya, Raisya menyampaikan bahwa apabila rumah tangga memang sudah tidak dapat diperbaiki, perceraian secara baik-baik dapat menjadi jalan keluar.
"Kurang lebih dua minggu sebelumnya saya menelepon Raisya dan Raisya juga menelepon saya. Dia menyampaikan kalau memang rumah tangga ini tidak bisa diperbaiki, ya maka nggak apa-apalah cerai baik-baik," kata Didi.
Menurut Didi, sikap tersebut menjadi salah satu alasan pihak Zidan memilih untuk tidak mengungkap secara detail konflik dalam rumah tangga mereka.
"Kami sendiri, tim kuasa hukum bersama dengan klien kami, tidak ingin membongkar siapa yang salah, siapa yang benar, kesalahannya sampai di titik mana, karena dikhawatirkan nanti juga akan terjadi perpecahan yang lebih parah lagi," ujarnya.
Didi juga menjelaskan gambaran mengenai dinamika rumah tangga keduanya. Sebagai seorang pengusaha, Zidan disebut memiliki kesibukan yang membuatnya kerap pulang malam dan jarang berada di rumah.
"Klien kami ini kan pengusaha. Dan kemudian dalam mengurus perusahaan itu kadang sering pulang malam. Terus kemudian jarang di rumah. Biasanya memang untuk pengantin baru itu kalau ditinggal-tinggal ini memang agak sensitif," kata Didi.
Ia juga menilai proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri bagi keduanya.
"Mungkin karena pacaran juga nggak lama ya, jadi kurang bisa beradaptasi. Jadi sepertinya itu yang menyebabkan terjadinya pertengkaran," lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Didi membenarkan bahwa sebelum pernikahan Raisya dan Zidan telah memiliki kesepakatan terkait aktivitas di dunia hiburan. Menurut Didi, kesepakatan tersebut dibuat sebelum keduanya menikah.
"Nah itu kesepakatan sebelum pernikahan. Jadi sebelum pernikahan Raisya dan Mas Zidan bersepakat agar Raisya tidak ikut bermain sinetron lagi atau main film dan bintang iklan dan lain-lain," jelas Didi.
Sementara itu, Muhammad Zidan turut memberikan pandangannya mengenai perbedaan latar belakang kehidupan dirinya dan Raisya. Zidan mengatakan dirinya berasal dari Malang, Jawa Timur.
"Itu sih mungkin. Kulturnya beda ya Jakarta sama Malang, sangat berbeda ya. Mungkin sama-sama kagetnya juga sih," ujar Zidan.
Ia mencontohkan perbedaan kehidupan sehari-hari yang menurutnya cukup terasa antara kedua kota tersebut.
"Dia ke Malang, di Malang kan nggak ada mal kayak di sini. Terus ya kehidupannya berbedalah di Malang sama di Jakarta itu. Bukan kampung sih, orang daerah. Lebih tepatnya daerah," katanya.
Ketika ditanya mengenai sejak kapan keduanya pisah rumah dan siapa yang terlebih dahulu meninggalkan kediaman, Zidan memilih tidak menjelaskan secara rinci. Namun, ia mengungkap bahwa rumah yang berada di Malang merupakan rumah miliknya.
"Ya, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Kalau di Malang itu kebetulan rumah saya, jadi Raisyanya yang keluar duluan," pungkas Zidan.
(fbr/mau)