Sensasi malam hari, mahasiswa IAI Hamzanwadi jelajahi sejarah di Museum NTB
"Kami sebagai mahasiswa IAI Hamzanwadi baru tahu secara detail bahwa kampus kami lahir dari rahim perjuangan Maulana Syaikh melalui organisasi Nahdlatul Wathan. Night at The Museum ini membuat sejarah itu terasa dekat,"
Mataram (ANTARA) - Mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) dari Fakultas Dakwah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor dan Anjani yang sedang melaksanakan PKL di ANTARA NTB menghadiri kegiatan Night at The Museum di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Mataram pada Jumat (22/8) malam.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa melihat langsung koleksi sejarah dan peninggalan Pahlawan Nasional asal NTB, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan pendiri Nahdlatul Wathan (NW), organisasi Islam terbesar di NTB yang juga menjadi cikal bakal berdirinya Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor.
Di Museum Negeri NTB, mahasiswa PKL melihat diorama perjalanan hidup dan perjuangan Maulana Syaikh. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir di Kampung Bermi Pancor pada 19 April 1908 dengan nama kecil Muhammad Syagaf.
Sepulang dari Makkah pada tahun 1934, beliau mendirikan Pesantren Al-Mujahidin dan dua tahun kemudian mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Pada 21 April 1943, beliau juga mendirikan madrasah perempuan pertama, Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI), sebagai bentuk semangat pendidikan emansipatoris.
Panel informasi di museum juga menjelaskan peran NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan. Melalui "Gerakan al-Mujahidin", TGKH bersama guru-guru dan santri ikut bergabung dengan gerakan rakyat di Pulau Lombok mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selain peninggalan berupa sorban dan naskah tulisan tangan, museum juga menampilkan foto-foto dokumentasi seperti Peletakan Batu Pertama MA NW Gunung Rajak tahun 1987 dan kunjungan Ketua PBNU Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang diterima langsung oleh Maulana Syaikh.
Dijelaskan pula, Maulana Syaikh wafat pada 21 Oktober 1997 dalam usia 99 tahun Masehi atau 102 tahun Hijriah di kediamannya di Bermi Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besarnya adalah ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan lebih dari seribu kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di Indonesia dan mancanegara.
Berkat perjuangannya mengislamkan masyarakat Lombok yang semula mayoritas animisme dan dinamisme, Pulau Lombok kini dijuluki Pulau Seribu Masjid.
Atas jasa-jasanya sebagai nasionalis, pejuang kemerdekaan, pendidik, ulama, dan pembaharu pendidikan, pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 115/TK/Tahun 2017 yang disematkan oleh Presiden Joko Widodo pada 6 November 2017.
Salah seorang mahasiswa PKL Fakultas Dakwah IAI Hamzanwadi mengatakan, kunjungan ini memberikan pemahaman baru tentang akar sejarah kampus mereka.
"Kami sebagai mahasiswa IAI Hamzanwadi baru tahu secara detail bahwa kampus kami lahir dari rahim perjuangan Maulana Syaikh melalui organisasi Nahdlatul Wathan. Night at The Museum ini membuat sejarah itu terasa dekat," ujarnya.
Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam mengatakan kegiatan Night at The Museum sendiri merupakan program edukasi Museum Negeri NTB untuk mengajak generasi muda mengenal sejarah dan tokoh-tokoh NTB dengan suasana yang berbeda di malam hari.
Pewarta : Pewarta Antara NTB
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026