Sejarah Lombok terabaikan dalam narasi nasional
Mataram (ANTARA) - Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Purwanto menilai sejarah Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memuat tentang kebinekaan hingga identitas belum memperoleh perhatian yang layak dalam narasi sejarah nasional.
"Nusa Tenggara Barat secara umum atau Lombok secara khusus, atau lebih spesifik lagi perang tahun 1894 bukan hanya dilupakan, tapi diabaikan untuk kebaikan Indonesia," ucap dia dalam diskusi kelompok terpumpun bertajuk Exploring New Futures for Indonesian Objects di Museum NTB, Mataram, Selasa.
Bambang mengatakan pihaknya bersama sejumlah peneliti dari Belanda saat ini menjadikan Lombok sebagai lokasi studi kasus dalam memahami perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Sejarah Lombok yang terabaikan tersebut bukan hanya ihwal catatan konflik yang tertuang dalam naskah-naskah kuno, melainkan juga berbagai pengalaman masyarakat dalam membangun kehidupan bersama di tengah keberagaman.
Dia mencontohkan bahwa publik saat ini hanya mengetahui sejarah Lombok dari kulit luarnya saja tentang kisah-kisah kerajaan, sistem kepercayaan sinkristik Watu Telu ataupun Perang Lombok 1894.
Kawasan Taman Narmada di Lombok Barat yang identik sebagai tempat peribadatan masyarakat Hindu justru banyak diisi oleh kegiatan orang Sasak yang identik dengan Islam.
"Dalam episode-episode tertentu yang berjarak puluhan tahun, orang mampu membangun kebersamaan di tengah perbedaan," ucap Bambang.
Selain itu, Bambang juga mendengar praktik budaya berupa pembacaan Barzanji atau Hikayat Nabi bagi bayi baru lahir usia satu bulan tujuh hari di lingkungan Keraton Cakranegara tersebut yang memperlihatkan adanya ruang perjumpaan budaya dan agama.
"Pikirkan (pembacaan Barzanji) dilakukan di dalam istana Hindu, ini bukan hal yang sederhana. Kita hanya sekadar melihat perbedaan, tapi orang (era kerajaan) mampu menyamakan perbedaan dan membangun hal-hal yang sama di tengah perbedaan," papar dia.
Berbagai realitas sejarah memperlihatkan bahwa warisan budaya Lombok tidak hanya berupa benda-benda bersejarah, tetapi juga nilai, praktik sosial, dan pengalaman hidup berdampingan yang masih relevan bagi Indonesia saat ini.
Bambang menyampaikan penelitian kolaborasi yang sedang berlangsung tersebut akan dituangkan ke dalam sejumlah publikasi, termasuk buku dan pameran yang direncanakan digelar di Lombok pada tahun 2027.
"Kami berharap ini bermanfaat untuk Indonesia dan bermanfaat juga untuk Nusa Tenggara Barat," ucapnya.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026