◐

Sanggar Saayun Salangkah dari Solok mainkan Tari Piriang di Ateh Karambia pada Saraso Fest 2026

Padang (ANTARA) - Sanggar Saayun Salangkah dari Kota Solok memainkan Tari Piriang di Ateh Karambia dalam pergelaran Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat.

"Kesenian tradisional yang unik dan sarat filosofi ini sukses mencuri perhatian karena menampilkan atraksi keseimbangan tingkat tinggi di atas buah kelapa yang utuh," kata Produksi dan Kreasi Seni Budaya UPTD Taman Budaya Sumatera Barat Ade Efdira, di Padang, Jumat.

Ia menjelaskan, penampilan ini menjadi bukti nyata dari komitmen daerah dalam menjaga dan menghidupkan kembali warisan leluhur yang hampir punah.

Menurutnya, Kota Solok merupakan salah satu daerah di Provinsi Sumatera Barat yang memiliki kesenian tradisional yang beraneka ragam.

Umumnya, dalam pewarisannya bersifat turun-temurun serta hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

"Masing-masing kesenian tersebut memiliki ragam, corak, serta karakter yang berbeda, khas, dan unik," katanya.

Ade menambahkan bahwa pemerintah daerah melalui pihak terkait akan terus mendukung wadah kreatif seperti sanggar seni agar kesenian khas ini tidak hilang ditelan zaman.

Salah satu kesenian tradisional tersebut adalah Tari Piriang di Ateh Karambia yang berasal dari Desa Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok.

Tari tersebut saat sekarang dilestarikan oleh Sanggar Saayun Salangkah dan dibina langsung oleh Dinas Pendidikan Kota Solok.

Tari Piriang Di Ateh Karambia pada awalnya berfungsi sebagai tarian hiburan dan wujud ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen padi yang diperoleh oleh masyarakat di Desa Payo.

Keunikan utama yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton Saraso Fest 2026 adalah media yang digunakan oleh para penari.

Tidak seperti tari piring pada umumnya yang menari di atas pecahan kaca, tarian ini mengharuskan penari menggunakan karambia atau kelapa yang sudah tua dan sengaja tidak dikupas kulitnya.

Para penari, baik laki-laki maupun perempuan, dituntut berjalan sambil menari di atas deretan kelapa tersebut.

Saat musik tradisional Minangkabau bertalu-talu, para penari dengan lihai mempertahankan konsentrasi penuh antara gerak tari yang estetis sekaligus menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terjatuh dari atas buah kelapa.

Penampilan memukau dari Sanggar Saayun Salangkah ini pun diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan dari para pencinta seni yang memadati area festival. (*)