Samijah puluhan tahun hidup di rumah berlantai tanah, harapkan bantuan hunian
Samijah puluhan tahun hidup di rumah berlantai tanah, harapkan bantuan hunian
Jumat, 11 September 2026 13:42 WIB
Samijah (71), warga Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, duduk di dalam rumahnya yang masih berlantai tanah dan berdinding bambu yang mulai lapuk, Jumat (11/9/2026). Kondisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupannya selama puluhan tahun. (Gunawan)
Blora (ANTARA) - Samijah, 71, telah menempati bangunan yang tak layak disebut rumah sejak kecil di Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Di bangunan berukuran sekitar 8x8 meter itu, Samijah menjalani hari-harinya dalam kondisi serba terbatas. Lantainya masih berupa tanah, penyangga bangunan mulai rapuh dan reyot, sedangkan sejumlah genteng bocor ketika hujan turun.
Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu pun telah lapuk dimakan usia. Bagian yang rusak hanya ditutup menggunakan kain bekas dan lembaran plastik agar rumah tetap bisa digunakan sebagai tempat berlindung.
Samijah kini tinggal seorang diri. Dari empat anaknya, salah seorang bernama Pridasi telah meninggal dunia. Sementara tiga anak lainnya, Marni tinggal di Rembang, Kasri di Purbalingga, dan Parji di Kecamatan Cepu.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Samijah mengandalkan bantuan dan uluran tangan warga serta dukungan dari anak-anaknya.
"Sejak kecil saya di sini, Mas. Anak saya empat, tetapi yang paling tua sudah meninggal. Anak dari yang meninggal itu satu sudah berkeluarga, sedangkan adiknya yang kembar mengalami difabel," kata Samijah di Blora, Jumat.
Di tengah kondisi tersebut, Samijah berharap mendapat bantuan program bedah rumah agar dapat tinggal di tempat yang lebih layak, aman, dan nyaman.
"Semoga bantuan serupa juga dapat menyentuh rumah saya. Di usia senja ini, saya berharap bisa memiliki tempat tinggal yang lebih layak, sehingga tidak lagi harus bertahan di rumah berlantaikan tanah dengan dinding bambu yang mulai lapuk," ujarnya.
Keprihatinan serupa juga terlihat di rumah sebelahnya. Mutiroh, istri almarhum Pridasi, tinggal bersama dua anaknya yang mengalami disabilitas sejak kecil.
Kondisi kedua keluarga tersebut mendapat perhatian jajaran Polsek Sambong yang mendatangi kediaman Samijah dan Mutiroh untuk melihat langsung kehidupan mereka.
Kapolsek Sambong AKP Subardi mengatakan pihaknya datang setelah memperoleh informasi mengenai kondisi kedua keluarga tersebut.
"Saya turun langsung dan melihat kondisi di lokasi. Sangat memprihatinkan, baik kondisi Bu Samijah maupun menantunya, Mutiroh," katanya.

Sebagai bentuk kepedulian, jajaran Polsek Sambong menyerahkan bantuan sembako kepada Samijah dan keluarganya.
"Hari ini kami memberikan sedikit rezeki dan sembako. Semoga bantuan ini dapat meringankan kebutuhan mereka," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Gagakan Joko mengatakan pemerintah desa memiliki program bantuan bedah rumah bagi warga yang membutuhkan.
Namun, pihaknya belum mengetahui secara detail rincian anggaran maupun daftar penerima bantuan tersebut.
Ia menyebutkan pada tahun sebelumnya terdapat sekitar lima rumah warga yang mendapat bantuan bedah rumah melalui Bantuan Provinsi (Banprov). Sementara tahun ini terdapat sekitar 11 rumah yang mendapat bantuan melalui usulan aspirasi.
"Seingat saya, tahun kemarin ada lima bedah rumah. Tahun ini sebanyak 11 rumah. Untuk detail titik-titik penerimanya dan anggarannya, Pak Wo (kepala dusun) yang lebih mengetahui," katanya.
Pewarta: Gunawan
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.