Rutan Maninjau adakan program pembinaan berbasis pesantren bagi warga binaan pendalaman ilmu agama
Lubukbasung (ANTARA) - Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mengadakan program pesantren bagi seluruh warga binaan dalam rangka pembinaan karakter, pendalaman ilmu agama dan pembentukan akhlak mulia selama menjalankan masa hukumannya.
Kepala Rutan Kelas IIB Maninjau Moh Setia Hadi di Lubuk Basung, Jumat, mengatakan pesantren diikuti sebanyak 47 warga binaan pemasyarakatan dan kegiatan diadakan selama empat hari setiap Minggunya.
"Pesantren kita lakukan sistem digilir bagi warga binaan pemasyarakatan setiap kamarnya," katanya didampingi Staf Kesatuan Pengamanan Rutan Kelas IIB Maninjau Hasan Syaipullah.
Ia mengatakan pesantren dititik beratkan untuk mengajar mengaji atau membaca Al Quran, karena banyak dari warga binaan pemasyarakatan tidak pandai membaca Al Quran.
Sementara pembimbing dimanfaatkan dari peserta magang Kementerian Tenaga Kerja yang sesuai dengan bidang keilmuannya.
"Program ini baru berjalan selama satu bulan secara intensif dan ini merupakan program yang sudah ada, tetapi dengan adanya peserta magang ini, maka program kita intensifkan," katanya.
Ilmu yang didapatkan tersebut, tambahnya telah diperlombakan berupa tahfiz, azan dan cerdas cermat dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad.
Hadiah para pemenang diserahkan saat acara Maulid Nabi Muhammad SAW, Jumat (28/8/2026).
"Lomba ini salah satu mengasah ilmu yang diperoleh selama pesantren tersebut," katanya.
Ia menambahkan Rutan Kelas IIB Maninjau juga mengadakan pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan di bidang ketahanan pangan berupa budidaya ikan di Danau Maninjau, sayur-sayuran di lokasi Sarana Asimilasi Edukasi (SAE).
Setelah itu kerajinan tangan berupa guci dari kertas ceki dan lainnya.
Dengan pembinaan itu, ia berharap warga binaan pemasyarakatan yang tidak pandai membaca Al Quran, mereka sudah bisa selama menjalankan masa hukumannya.
Mereka juga bisa memanfaatkan lahan kosong untuk dijadikan lokasi menanam sayur-sayuran dan budidaya ikan.
"Program ini lebih kemandirian dan ini bekal mereka yang bisa dimanfaatkan setelah selesai menjalankan masa hukumannya," katanya.