Runtuh! Bendungan Raksasa Dunia Mandek Hasilkan Listrik, RI Tak Aman
Salma Laiqa, CNBC Indonesia
13 October 2026 11:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Niño yang menguat pada 2026 tidak hanya mengancam produksi pangan, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan listrik dunia, terutama dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
El Niño dapat memicu kekeringan di sejumlah wilayah akibat berkurangnya curah hujan. Kondisi tersebut menyebabkan debit sungai dan cadangan air bendungan menyusut, sehingga pasokan air untuk menggerakkan turbin PLTA ikut berkurang.
Dampaknya dapat meluas ke perekonomian. Penurunan produksi listrik tenaga air berpotensi meningkatkan kebutuhan pembangkit berbahan bakar fosil, biaya penyediaan energi, hingga risiko pemadaman apabila pasokan listrik tidak mampu memenuhi permintaan.
Melansir Bloomberg, lembaga prakiraan cuaca Amerika Serikat (AS) memperkirakan peluang 83% bahwa El Niño pada akhir tahun berpotensi menjadi yang terkuat dalam catatan sejak 1950.
Pada September 2026, anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 mencapai 2,1 derajat Celsius di atas normal, melewati ambang kategori El Niño sangat kuat.
Namun, kekuatan El Niño tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kerusakan di setiap negara. Dampaknya bergantung pada pola curah hujan, ketahanan infrastruktur, dan kemampuan sistem energi menghadapi gangguan pasokan air.
Manajer investasi global T. Rowe Price dalam analisis September 2026 memperingatkan bahwa kekeringan dan menyusutnya cadangan air dapat berkembang menjadi risiko ekonomi yang lebih luas.
Gangguan produksi PLTA berpotensi meningkatkan biaya energi, mendorong inflasi, menekan pertumbuhan ekonomi, hingga membebani keuangan pemerintah jika diperlukan subsidi atau pembelian energi alternatif.
Cadangan Air Bendungan di Afrika Selatan Menyusut
Afrika Selatan menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air di tengah ancaman kekeringan akibat El Niño.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Cape Town per 9 Oktober 2026, enam bendungan utama yang memasok air ke wilayah tersebut memiliki total kapasitas sekitar 898 juta meter kubik, dengan tingkat keterisian gabungan sebesar 75,2%.
Dari keenam bendungan tersebut, Theewaterskloof memiliki kapasitas terbesar, yakni 480,19 juta meter kubik, dengan tingkat keterisian 75,4%. Sementara itu, Steenbras Lower mencatat keterisian terendah sebesar 49%, disusul Voëlvlei sebesar 57,8%.
Steenbras Lower dan Upper juga menjadi bagian dari sistem PLTA pumped-storage berkapasitas 180 megawatt (MW) yang membantu memasok listrik Cape Town saat permintaan puncak.
Rendahnya keterisian Steenbras Lower perlu dicermati karena bendungan tersebut mendukung operasional pembangkit. Meski demikian, data keterisian belum menunjukkan adanya penurunan produksi listrik PLTA.
Di luar sektor energi, keterbatasan cadangan air juga berpotensi mengganggu pasokan air rumah tangga, irigasi pertanian, hingga aktivitas industri.
mengancam pasokan rumah tangga, irigasi pertanian, dan aktivitas industri.
Sri Lanka Krisis Air, Waduk Tersisa 30%
Kekeringan akibat El Niño juga melanda Sri Lanka, menyebabkan cadangan air waduk menyusut dan mengganggu pasokan air masyarakat.
Melansir NoticiasFinancieras, Senin (12/10/2026), sebanyak 74 waduk di Sri Lanka hanya terisi sekitar 30% dari kapasitasnya akibat minimnya curah hujan selama musim monsun barat daya.
Kondisi tersebut membuat sejumlah sumur warga mengering dan memaksa pemerintah mendistribusikan air bersih menggunakan truk tangki. Di sektor pertanian, kekurangan air juga menyebabkan sebagian petani meninggalkan lahan dan kehilangan sumber pendapatan.
Kekeringan turut mengancam satwa liar di Taman Nasional Yala setelah sejumlah sumber air mengering.
Penyusutan cadangan air ini menjadi risiko bagi ketahanan energi apabila berlangsung berkepanjangan, terutama bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang bergantung pada debit sungai dan waduk.
Produksi PLTA Republik Ceko Anjlok hingga Separuh
Gangguan pasokan listrik tenaga air telah terjadi di Republik Ceko akibat kekeringan sepanjang 2026.
Mengutip laporan kantor berita CTK pada Jumat (9/10/2026), perusahaan energi ČEZ menyatakan PLTA di sepanjang Sungai Vltava hanya menghasilkan sekitar 40-50% dari rata-rata produksi listrik jangka panjang tahun ini.
Penurunan terjadi akibat kekeringan dan rendahnya debit sungai yang mengurangi pasokan air ke turbin pembangkit.
Di PLTA Vrané, aliran air tercatat hanya 28 meter kubik per detik, jauh di bawah kemampuan dua turbin pembangkit yang dapat memproses hingga 180 meter kubik per detik.
Sementara itu, PLTA Orlík hanya dapat menghasilkan listrik dengan aliran sekitar 15 meter kubik per detik, sehingga daya keluarannya turun menjadi kurang dari separuh kemampuan semula.
Seluruh pembangkit di sepanjang Sungai Vltava masih beroperasi, tetapi tidak lagi mampu menjamin pasokan listrik pada periode permintaan puncak.
Untuk menutup kekurangan tersebut, ČEZ mengandalkan sumber listrik lain, terutama PLTA pumped-storage Dalešice.
Kondisi kekeringan juga mendorong pemerintah daerah Bohemia Tengah dan Selatan menetapkan langkah penghematan air. Aliran keluar dari sejumlah bendungan dibatasi untuk memperlambat penurunan cadangan air.
Meski terjadi di tengah El Niño 2026, laporan ČEZ belum memastikan bahwa kekeringan di Republik Ceko secara langsung disebabkan fenomena tersebut.
PLTA Sulawesi Terdampak, Pasokan Listrik Tertekan
Dampak El Niño terhadap pembangkit listrik tenaga air (PLTA) juga terjadi di Indonesia, khususnya Sulawesi yang menjadi salah satu pusat PLTA nasional.
Pada September 2026, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan bahwa El Niño menyebabkan kemampuan pembangkitan PLTA di Sulawesi bagian selatan berkurang sekitar 650 megawatt (MW) akibat menyusutnya debit air.
Sebelumnya, PLN mencatat daya mampu gabungan pembangkit hidro di wilayah tersebut turun dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW. Gangguan antara lain terjadi pada PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah pembangkit minihidro.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata berkapasitas 1.000 MW yang berada di Kabupaten Purwakarta dan Bandung Barat, Jawa Barat sebagai salah satu pembangkit EBT yang terdaftar dalam sistem pelacakan elektronik dari APX TIGRs dan diakui secara internasional untuk mengeluarkan Renewable Energy Certificate (REC). (Dok PT PLN Persero) Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata berkapasitas 1.000 MW yang berada di Kabupaten Purwakarta dan Bandung Barat, Jawa Barat sebagai salah satu pembangkit EBT yang terdaftar dalam sistem pelacakan elektronik dari APX TIGRs dan diakui secara internasional untuk mengeluarkan Renewable Energy Certificate (REC). (Dok PT PLN Persero)
Untuk menjaga pasokan listrik, PLN menyiapkan tambahan daya hingga 627 MW melalui optimalisasi pembangkit, percepatan perbaikan, dan pengembangan PLTS dengan penyimpanan baterai.
Kekeringan juga berdampak pada pasokan air bersih. Di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, hampir 300.000 warga terdampak kekeringan hingga awal Oktober 2026. Pemerintah daerah mengerahkan sekitar 30 tangki air setiap hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa El Niño tidak hanya mengancam ketersediaan air, tetapi juga ketahanan energi dan aktivitas ekonomi di Sulawesi.
(slm/slm)