Rossi Sudah Bilang 10 Tahun Lalu, Yamaha Baru Sadar Sekarang

Jakarta -

Situasi di tim MotoGP Yamaha lagi 'panas'. Sang pebalap, Fabio Quartararo, kecewa dengan perlakuan Yamaha terhadap dirinya. Quartararo sebelumnya terus membela Yamaha sekalipun mendapat hasil buruk. Tapi sejak awal tahun 2026, dia mulai banyak berkomentar dengan kalimat terselubung terkait kekecewaannya terhadap siklus pengembangan motor Yamaha yang terlalu berlarut-larut.

Awal tahun 2026 Quartararo mengungkap bahwa 'kami belum berada di posisi yang cepat' saat bertarung di seri pembuka di Thailand. Kekecewaan itu terus berkembang dan dia mengungkap tak ada kemajuan dari Yamaha sehingga membuat dirinya tampil tak maksimal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian muncul rumor Quartararo pindah ke Honda untuk musim 2027-2028 sebelum pebalap Prancis itu menjajal Yamaha dengan mesin V4. Situasi ini turut memicu panasnya hubungan Quartararo dengan Yamaha.

Pekan lalu di Misano, Quartararo mengakui bahwa dia dan Yamaha telah mengadakan pertemuan secara tertutup setelah Grand Prix Aragon sebagai upaya meredam ketegangan antara kedua belah pihak.

"Saya rasa karena frustasi kami mengucapkan hal-hal yang mungkin tidak tepat. Kami mengadakan pertemuan dan semuanya sudah diselesaikan," ucap Quartararo dilansir Motorsport Magazine.

Quartararo merupakan salah satu bintang besar di tubuh Yamaha setelah Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, serta Maverick Vinales hengkang. Saat pertama kali mengendarai motor Yamaha di kelas MotoGP di Sepang, Quartararo mengejutkan banyak orang bahwa penampilannya amat brilian. Setelah balapan pembuka musim 2021 di Qatar, Quartararo kemudian meniti jalannya sendiri sebagai pebalap unggulan dari pabrikan Garpu Tala.

"Masalah-masalah yang mulai kami alami dari tahun ke tahun 'tertutupi' oleh dirinya dan kemampuannya," aku Direktur Tim Yamaha MotoGP Massimo Meregalli.

Masalah itu kata Meregalli juga dialami pebalap Yamaha lainnya. Namun berkat performa gemilang Quartararo, semuanya jadi tertutup. Tapi lambat laun justru jadi bumerang ke tubuh Yamaha sendiri. Padahal permasalahan yang dialami Yamaha itu sudah dikeluhkan Rossi 10 tahun lalu. Namun nyatanya pabrikan yang bermarkas di Iwata itu baru sadar sekarang.

"Kami memiliki beberapa masalah (struktural) dan Valentino telah menyorotinya 10 tahun lalu, tetapi entah bagaimana kami tetap mempertahankannya. Baiklah kami memiliki pebalap terbaik dan motornya berfungsi dengan baik, dan mungkin tim lain saat itu tidak sebaik sekarang. Semua ini memungkinkan kami bertahan tapi tidak berkembang," kata Meregalli lagi.

Di saat Yamaha tak berkembang, pabrikan lain justru dengan cepat beradaptasi. Contohnya Ducati yang bergerak cepat hingga bisa mengantar ridernya merengkuh titel juara dunia.

"Ducati benar-benar telah meningkatkan performa dan teknologinya ke level yang tinggi dan pabrikan Eropa lain juga sangat aktif serta cepat bereaksi. Bagi kami situasinya berbeda, tetapi kini kami telah memperkuat tim dengan tenaga ahli dari pabrikan lain dan terus meningkatkan pengetahuan kami. Kini kami benar-benar bergerak maju, tetapi pabrikan lain tidak akan menunggu," pungkasnya.

(dry/din)