Rocky Gerung ke Menterinya Prabowo: Di Sini Saya yang Kuasa
Rabu, 09 September 2026, 07:00 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Menteri biasanya identik dengan kekuasaan dan kewenangan ketika berada di lingkungan pemerintahan. Namun, suasananya menjadi berbeda ketika Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid hadir di sebuah forum akademis dan berhadapan dengan pengamat politik Rocky Gerung.
Momen tak biasa itu terjadi dalam Kuliah Umum bertajuk "Filosofi Agraria: Pertanahan dan Tata Ruang dalam Perspektif Kebangsaan" di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), Jumat (4/9/2026) lalu. Rocky melontarkan sejumlah kelakar bernada satire kepada Nusron, termasuk memplesetkan istilah "Nusantara" menjadi "Nusron Tara".
Rocky kemudian menyindir kehadiran Nusron yang merupakan menteri di pemerintahan. Ia menyebut Nusron yang berasal dari tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dinilai selalu mampu membuat sesuatu secara tiba-tiba.
Baca Juga: Sampai Dibilang Sombong, Purbaya Ternyata Sengaja Lakukan Ini Demi Jaga Ekonomi
Tak berhenti di situ, Rocky kemudian membandingkan posisi Nusron sebagai menteri ketika berada di lingkungan pemerintahan dengan kedudukannya saat berada di ruang akademis STPN. Ia bahkan secara terang-terangan menyebut dirinya yang memegang kendali di forum tersebut.
"Menteri nggak boleh duduk di sini. Dia dengerin kuliah saya karena ini wilayah akademis," katanya.
"Kalau di kantornya dia kuasa, kalau di sini saya yang kuasa," lanjut Rocky.
Kelakar tersebut disampaikan dalam suasana kuliah umum yang membahas filosofi agraria, pertanahan, serta tata ruang dalam perspektif kebangsaan. Kehadiran Rocky sendiri turut membuat forum tersebut semakin menarik karena ia ikut memanaskan mimbar akademis bersama Nusron.
Baca Juga: Desil Semrawut, Purbaya Heran BPS Minta Duit Lagi: Dulu Janjinya...
Dalam kesempatan itu, Nusron menantang ratusan mahasiswa Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) untuk berani menguliti kebijakan pemerintah. Ia meminta para taruna tidak takut menyampaikan kritik maupun perbedaan pandangan.
Nusron mengatakan tradisi dialektika tidak boleh hilang meski STPN merupakan kampus semi-kedinasan. Bahkan, ia membuka ruang agar kuliah umum di STPN menghadirkan tokoh-tokoh yang berada di luar pemerintahan atau pihak oposisi untuk memberikan perspektif berbeda kepada mahasiswa.
Menurut Nusron, pimpinan kementerian menolak budaya seragam dalam merumuskan kebijakan publik. Karena itu, para taruna diminta mendebat setiap argumen pejabat negara secara tajam tanpa rasa takut. Perbedaan pandangan yang tajam, menurutnya, justru dapat membantu mematangkan nalar.
"Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara,” kata Nusron.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri