Riset: Konten positif Bahlil dominan, tapi respons publik digital lebih kritis
Riset: Konten positif Bahlil dominan, tapi respons publik digital lebih kritis
Sabtu, 29 Agustus 2026 16:30 WIB
Logo Riset Losta Digital Lab (ANTARA/HO-Istimewa)
Yogyakarta (ANTARA) - Riset Losta Digital Lab merilis hasil pemantauan percakapan digital mengenai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, selama periode 24 Juli–24 Agustus 2026.
Penelitian dilakukan karena posisi Bahlil dinilai strategis dalam lanskap komunikasi politik pemerintah. Pertama, Bahlil mencatatkan rasio sentimen positif yang menjadikannya salah satu figur penyokong citra positif pemerintah di ruang digital.
Kedua, posisinya sebagai Ketua Umum Partai Golkar menempatkan Bahlil sebagai salah satu aktor politik penting dari partai utama pendukung pemerintahan.
Karena itu, dinamika persepsi publik terhadap Bahlil menjadi relevan untuk melihat bagaimana citra personal, kebijakan, dan posisi politik berinteraksi di ruang digital.
Pemantauan dilakukan terhadap percakapan terbuka di X/Twitter, Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook. Dalam satu bulan, Losta Digital Lab menghimpun 953 postingan, 5.164 komentar, 33,14 juta tayangan (impressions), dan 1,67 juta interaksi.
Hasil penelitian menunjukkan 76,6 perse konten mengenai Bahlil bersentimen positif, 16,2 persen netral dan hanya 7,2 persen negatif.
Namun, pola berbeda muncul di ruang komentar, dari 5.164 komentar yang dianalisis, 39,49 persen bersentimen negatif, 35,3 persen netral, dan 25,21 persen positif.
Dalam penelitian ini, pola tersebut diidentifikasi sebagai sebagai "Narrative Audience Gap", yakni kesenjangan antara sentimen konten yang beredar dengan respons audiens terhadap konten tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa dominasi narasi positif tidak otomatis berarti dominasi persepsi positif di tingkat audiens. Respons sangat bergantung pada isu penelitian juga menemukan bahwa respons terhadap Bahlil berubah berdasarkan isu.
Pada isu energi dan BBM, respons cenderung positif, sebaliknya, respons negatif menguat pada isu data sosial-ekonomi/desil serta korupsi dan kepentingan elite. Kritik publik terutama terkonsentrasi pada persoalan integritas dan elitisme, kredibilitas data, serta sensitivitas dan empati dalam komunikasi.
Peneliti Losta Digital Lab Wahyu Sumprabowo Hardi, menilai temuan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan komunikasi personal Bahlil sekaligus dapat menjadi titik kerentanannya.
Menurut dia, kekuatan terbesar Bahlil sekaligus dapat menjadi sumber kerentanannya. Keberanian mengambil keputusan, gaya komunikasi informal, humor, dan persona ‘dekat rakyat’ efektif membangun perhatian dan afeksi publik.
"Tetapi persona yang sama menjadi berisiko ketika berhadapan dengan isu yang menuntut sensitivitas tinggi. Kasus terkait gempa NTT, contohnya, memperlihatkan bagaimana spontanitas yang biasanya menjadi aset dapat dengan cepat dibaca sebagai kurang empatik," katanya.
Menurut Wahyu, persoalannya bukan Bahlil harus meninggalkan karakter komunikasinya.
"Masalahnya bukan bahwa Bahlil harus mengubah karakternya, tetapi karakter tersebut membutuhkan situational awareness yang jauh lebih kuat. Gaya komunikasi yang menjadi kekuatan pada satu situasi dapat menjadi kerentanan ketika konteksnya berubah," katanya.
Riset juga menemukan perbedaan karakter antarplatform. TikTok dan Instagram cenderung menjadi ruang interaksi dan afeksi yang tinggi, sementara X/Twitter menjadi ruang percakapan yang lebih kritis ketika menyangkut data, kebijakan, integritas, dan akuntabilitas.
Losta Digital Lab menyimpulkan bahwa reputasi digital tidak cukup dibaca hanya melalui jumlah mentions atau sentimen agregat. Analisis juga harus melihat isu, konteks, platform, serta respons audiens.
"Perhatian publik belum tentu berarti penerimaan, dan dominasi narasi belum tentu berarti dominasi persepsi," katanya
Pewarta : HRI
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026