Realisasi DMO di Atas Kewajiban, Profit PTBA Turun Rp 14,5 T pada 2018-2025 - Energi Katadata.co.id

PT Bukit Asam (PTBA) Tbk mengungkapkan perusahaan mengalami penurunan profit sebanyak Rp 14,5 triliun periode 2018-2025. Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Bambang Ismawan mengatakan hal ini disebabkan oleh pemenuhan domestic market obligation (DMO) batu bara yang melebihi kewajiban.

Dia menyebut sebetulnya berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 267.K/MB.01/MEM.B/2022, perusahaan hanya diwajibkan memenuhi DMO 25% dari total produksi batu bara setiap tahunnya.

“Kami pernah mencoba (hitung) berapa penurunan profit itu sekitar Rp 14,5 triliun dari 2018 sampai 2025. Itu karena kami memenuhi DMO melebihi dari yang seharusnya,” kata Bambang dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9).

Tahun ini total DMO yang harus dipenuhi PTBA sebanyak 17,7 juta ton. Hingga Agustus 2026, jumlah pemenuhan DMO nya sudah mencapai 12,8 juta ton atau 45% dari total produksi perusahaan.

Di sepanjang 2025, PTBA bahkan memenuhi DMO 54% dari total produksi tahun lalu. Menurutnya kewajiban DMO selalu menjadi permasalahan setiap tahunnya. PTBA melihat perusahaan lain cenderung kurang mematuhi kewajiban tersebut. 

“Sehingga selalu yang menjadi tumpuan adalah PT Bukit Asam. Oleh karena itu kami mohon dukungan supaya DMO dikelola secara adil, dengan tanggung jawab nasional dipikul bersama oleh perusahaan-perusahaan lainnya,” ujarnya.

Kinerja Semester 1 2026

Pada Semester I 2026, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp 22,03 triliun, naik 8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Laba bersih Perseroan mencapai Rp 2,65 triliun, tumbuh 218% yoy. 

Kinerja tersebut didukung oleh pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara. Secara operasional, PTBA mencatat produksi batubara sebesar 19,45 juta ton dan penjualan sebesar 21,10 juta ton. 

Penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton, meningkat sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Negara tujuan ekspor terbesar dari Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Sementara itu, penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan.