Raksasa Otomotif Lagi Krisis: Produksi Dipangkas, PHK 100 Ribu Buruh

Jakarta -

Raksasa otomotif dunia yang menjadi grup otomotif dengan penjualan mobil terbanyak ke dua di Bumi, Volkswagen, tengah mengalami krisis. Pabrikan otomotif asal Jerman itu berencana untuk memangkas jajaran modelnya secara drastis dan mengurangi kapasitas produksi.

Dilaporkan Reuters, produsen mobil terbesar di Eropa ini mempertimbangkan perombakan besar-besaran yang menurut sumber dapat mengakibatkan hilangnya sekitar 100.000 pekerjaan.

Reuters mewartakan, Volkswagen berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk merestrukturisasi model bisnis yang telah menopang kesuksesannya selama beberapa dekade. Sebab, Volkswagen tengah bergulat dengan biaya tinggi dan kelebihan kapasitas di dalam negeri. Faktor-faktor tersebut, ditambah meningkatnya persaingan dari China, regulasi, dan tarif impor AS, telah memangkas margin keuntungannya hingga setengahnya antara tahun 2021 dan 2025.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Volkswagen menyebut, jajaran modelnya akan dipangkas secara bertahap hingga setengahnya. Soalnya, raksasa otomotif terlaris kedua di dunia setelah grup Toyota itu berkonsentrasi pada segmen pasar yang paling menarik. Kapasitas produksi akan dikurangi menjadi sembilan juta kendaraan per tahun, turun dari 10 juta unit saat ini.

"Situasi global terus memburuk selama dua belas bulan terakhir. Itulah mengapa kami bertindak sekarang," kata CEO Volkswagen Oliver Blume.

Menurut sumber anonim, Blume sedang mempertimbangkan untuk menutup empat pabrik di Jerman, yaitu Hanover, Emden, Zwickau, dan pabrik Audi di Neckarsulm. Keputusan itu disebut juga akan memangkas hingga 100.000 pekerjaan, kira-kira dua kali lipat dari jumlah yang direncanakan saat ini. Ini akan menjadi restrukturisasi terbesar Volkswagen hingga saat ini.

Isu penutupan pabrik dan PHK besar-besaran di salah satu perusahaan otomotif paling bersejarah itu menggambarkan tantangan yang dihadapi ekonomi terbesar di Eropa saat berjuang dengan pertumbuhan yang lemah dan biaya tenaga kerja serta energi yang tinggi.

(rgr/dry)