Presiden: APBN jadi alat perjuangan - ANTARA News Kalimantan Selatan
Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan sekadar dokumen keuangan negara, melainkan merupakan alat perjuangan, termasuk instrumen untuk melindungi rakyat.
“APBN adalah instrumen untuk melindungi rakyat. Alat untuk memperkuat bangsa. Alat untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan dalam mencapai kehidupan yang lebih baik,” kata Presiden dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Gedung DPR Jakarta, Jumat.
Apabila dahulu para pahlawan berjuang agar bangsa Indonesia memiliki negara, Presiden menegaskan bahwa hari ini tugas bersama adalah memastikan negara berhasil untuk dapat memberi meningkatkan kualitas hidup bagi rakyat dan negara hadir dalam kehidupan setiap rakyat.
“Negara hadir ketika petani membutuhkan pupuk. Negara hadir ketika nelayan membutuhkan kapal dan tempat menyimpan hasil tangkapannya. Negara hadir ketika buruh membutuhkan perlindungan dalam bekerja dan berkarya,” kata Presiden.
Ia menambahkan bahwa negara juga harus hadir ketika anak membutuhkan makanan bergizi dan sekolah yang baik.
Selain itu, negara hadir ketika keluarga membutuhkan rumah, air bersih, listrik, pekerjaan, layanan kesehatan, serta perlindungan pada masa sulit.
Presiden menegaskan bahwa kemerdekaan belum selesai hanya karena bendera Indonesia telah berkibar.
“Kemerdekaan harus terasa di meja makan rakyat, di ruang kelas anak-anak kita, di Puskesmas dan rumah sakit, dan di masa depan setiap keluarga Indonesia,” kata Presiden.
Pada kesempatan tersebut, Presiden turut menyampaikan penghargaan kepada pimpinan dan seluruh anggota DPR RI atas kerja sama, pengawasan, dan dukungannya dalam penyusunan serta pelaksanaan APBN.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Presiden: APBN bukan sekadar dokumen tetapi jadi alat perjuangan
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.