Politikus Nasdem Irma Ungkit Prabowo Menang Pilpres 2024 setelah Didukung Jokowi

Sabtu, 19 September 2026, 11:38 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengaruh politik Joko Widodo kembali disinggung politikus Partai NasDem Irma Suryani Chaniago ketika membahas kemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2024. Irma mengaitkan kemenangan tersebut dengan dukungan Jokowi yang diberikan kepada Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024.

“Faktanya sekali lagi ini yang ngomong Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang maju tiga kali baru ketika didukung Pak Jokowi dia menang,” ujar Irma dalam wawancara yang dimuat Cokro TV, dikutip Jumat (18/9/2026).

Irma menggunakan perjalanan Pilpres 2024 tersebut untuk menjelaskan pandangannya mengenai posisi Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden. Menurutnya, aktivitas Jokowi yang masih mendapat perhatian masyarakat tidak bisa dilepaskan begitu saja dari pengaruh politik yang pernah dimilikinya.

Selain kemenangan Prabowo, Irma juga menyinggung keputusan Prabowo menggandeng putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024. Menurut Irma, keputusan tersebut dapat dilihat sebagai salah satu hal yang menunjukkan adanya pertimbangan terhadap posisi politik Jokowi.

Irma menyampaikan pandangan tersebut ketika membela hak Jokowi untuk tetap beraktivitas di ruang politik setelah masa jabatannya berakhir. Ia menilai mantan Presiden tetap merupakan warga negara yang memiliki hak menentukan sikap politik.

“Pak Jokowi ini kan mantan presiden ya, yang sudah bukan jadi presiden lagi. Dia punya hak politik,” kata Irma.

Menurut Irma, Jokowi tidak kehilangan kebebasan untuk menentukan pilihan hanya karena sudah tidak lagi berada di pemerintahan. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menurutnya juga memiliki hak untuk menentukan aktivitas politik setelah meninggalkan jabatan.

“Dia manusia merdeka yang boleh menentukan sikapnya, yang boleh dan bisa menentukan sikapnya. Mau melakukan aktivitas politik seperti apa pun dia punya hak sebagai warga negara sebagaimana Pak SBY,” ujarnya.

Irma juga menolak anggapan bahwa aktivitas politik Jokowi secara otomatis dapat ditafsirkan sebagai upaya mempertahankan kekuasaan. Ia mengatakan seseorang yang pernah menjadi Presiden tetap dapat berkiprah dan membantu pemerintah maupun masyarakat setelah tidak lagi menjabat.

“Kalau Pak Jokowi mau berkiprah lagi terhadap bangsa dan negaranya, membantu pemerintah, membantu rakyat, membantu bangsa dan negara, ini siapa yang boleh ngelarang? Undang-undang aja melindungi,” kata Irma.

Baca Juga: Amien Rais Singgung 'Kudeta Senyap' Jokowi, Seret Gibran dan Isu Percepatan Pemilu

Dalam pandangan Irma, perhatian masyarakat terhadap Jokowi juga menjadi bagian dari realitas politik yang tidak dapat begitu saja diabaikan. Ia mengaku pernah melihat langsung masyarakat yang datang menemui Jokowi ketika berada di Solo.

Irma mengatakan masyarakat yang datang tersebut memang ingin bertemu dengan Jokowi dan sebagian mengidolakannya. Ia kemudian menggunakan pengamatan itu untuk memperkuat pandangannya bahwa Jokowi masih memiliki daya tarik di tengah masyarakat.

Namun, kaitan antara dukungan Jokowi dan kemenangan Prabowo tersebut merupakan penilaian Irma terhadap dinamika politik Pilpres 2024. Pernyataan tersebut tidak mengubah fakta bahwa kemenangan pasangan Prabowo-Gibran ditentukan melalui pemilihan umum dan hasil resmi yang ditetapkan penyelenggara pemilu.

Irma pada akhirnya menempatkan dukungan Jokowi kepada Prabowo dan keputusan Gibran menjadi cawapres sebagai bagian dari argumennya mengenai pengaruh politik Jokowi. Ia menilai rangkaian tersebut menjadi alasan mengapa aktivitas politik mantan Presiden masih menjadi perhatian hingga sekarang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama