Perumdam: Kadar garam air di wilayah selatan Kotim terlalu tinggi

Perumdam: Kadar garam air di wilayah selatan Kotim terlalu tinggi

Sabtu, 19 September 2026 11:41 WIB

Image Print

Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim, Ismanadi. (ANTARA/Devita Maulina)

Sampit (ANTARA) - Kadar garam atau salinitas air di sejumlah wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah terus meningkat hingga mencapai angka 630, sehingga sumber air tersebut tidak lagi memenuhi syarat untuk dikonsumsi sebagai air minum.

“Untuk wilayah selatan, Sungai Sampit bukan kekeringan, tetapi salinitas airnya, kadar garamnya terlalu tinggi. Kami bisa produksi, tetapi hanya diperuntukkan MCK, bukan minum,” kata Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim Ismanadi di Sampit, Sabtu.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi pada sumber air Sungai Sampit di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara, khususnya kawasan Bagendang. Tingginya kadar garam membuat air hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK).

Pemeriksaan kadar salinitas dilakukan berkala oleh Perumdam Tirta Mentaya untuk memastikan kondisi sumber air yang digunakan dalam pelayanan kepada masyarakat. Hasil pemeriksaan internal tersebut kemudian dikonfirmasi melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kotim.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar salinitas di kawasan Bagendang telah berada di atas 630. Kondisi tersebut menandakan air sungai telah mengalami peningkatan kadar garam yang cukup tinggi sehingga tidak dapat digunakan sebagai sumber air minum.

“Yang di Bagendang salinitasnya mencapai 630. Itu sudah masuk kategori sangat tidak layak untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Baca juga: Semua penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit dibatalkan karena kabut asap

Menurut Ismanadi, penggunaan air dengan kadar garam yang terlalu tinggi untuk kebutuhan konsumsi dapat berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu gangguan kesehatan yang dapat muncul apabila air tersebut tetap dikonsumsi adalah diare.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Perumdam tidak menggunakan produksi air dari sumber di wilayah selatan sebagai air minum.

Air yang dihasilkan dari sumber tersebut sementara diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang tidak berkaitan dengan konsumsi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih untuk konsumsi masyarakat di wilayah selatan harus dipenuhi melalui pasokan yang dikirim dari Sampit.

Perumdam terus mendistribusikan air untuk membantu masyarakat yang sumber airnya telah terdampak peningkatan salinitas.

“Jadi, untuk konsumsi sementara ini kami salurkan langsung dari Sampit ke wilayah selatan. Khusus untuk kebutuhan konsumsi. Kalau untuk mandi, kamar mandi dan mencuci juga, kami kewalahan,” jelasnya.

Selain wilayah Bagendang dan Samuda, pengaruh air payau juga mulai terpantau di Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Namun, kondisi di wilayah tersebut masih berada pada tingkat kewaspadaan dan belum separah wilayah selatan.

Berdasarkan pemeriksaan, kadar salinitas di Pelangsian saat air pasang hampir mencapai 400, sedangkan nilai total dissolved solids (TDS) berada di atas 300. Saat air surut, kadar salinitas masih berada di bawah 400 dan TDS juga turun di bawah 300.

“Pelangsian sudah mulai masuk. Salinitas di Desa Pelangsian ini statusnya sudah masuk waspada,” ungkap Ismanadi.

Perumdam Tirta Mentaya terus memantau pergerakan salinitas tersebut karena terdapat kemungkinan air asin bergerak lebih jauh menuju wilayah Sampit. Pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap hari untuk mengetahui perubahan kadar garam pada sumber air.

Ismanadi menilai kondisi di Desa Samuda dan Bagendang saat ini berbeda dengan Pelangsian. Kadar garam di dua wilayah tersebut sudah terlalu tinggi untuk dijadikan sumber air konsumsi, baik ketika kondisi sungai sedang pasang maupun saat air surut.

Kondisi pasang dan surut tidak lagi memberikan perubahan signifikan terhadap kadar garam di wilayah yang telah mengalami salinitas tinggi. Saat pasang, air asin masuk ke sungai, sedangkan ketika surut sebagian air yang telah masuk masih berada dan bergerak di kawasan sungai tersebut.

“Karena sudah kering di sana, air itu saja yang mondar-mandir. Jadi kadar garamnya tetap tinggi,” lanjutnya.

Sebagai acuan pelayanan air bersih di Sampit, Perumdam menggunakan batas salinitas di bawah 300 sebagai salah satu parameter untuk air yang aman dikonsumsi.

Oleh sebab itu, peningkatan salinitas di wilayah selatan menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap ketersediaan air minum masyarakat.

Perumdam Tirta Mentaya memastikan pemantauan akan terus dilakukan terhadap sumber-sumber air, termasuk wilayah yang mulai menunjukkan peningkatan salinitas.

Langkah tersebut diperlukan agar perubahan kualitas air dapat diketahui lebih awal dan distribusi air untuk kebutuhan konsumsi masyarakat tetap dapat dilakukan.

“Kami akan pantau terus, sembari berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait penyaluran air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan,” demikian Ismanadi.

Baca juga: Pemkab Kotim pertimbangan opsi pemasangan pipa bawah air atasi krisis air bersih

Baca juga: Karhutla belum reda, Dompet Dhuafa gelar doa bersama memohon hujan

Baca juga: Legislator Kotim desak penerapan BDR untuk selamatkan generasi bangsa

Pewarta : Devita Maulina
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.