◐

Pertamina dorong ekonomi sirkular lewat limbah pertanian di Tuban - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) -

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mendorong penerapan ekonomi sirkular di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, melalui pengolahan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi yang mampu menghasilkan omzet briket Rp720 juta per tahun sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Upaya tersebut diwujudkan melalui program inovasi sosial Kang Ebit: SIMPEL (Sistem Pertanian Terintegrasi Pengelolaan Limbah) di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak.

"Program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang mendorong kemandirian masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal," kata Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi dalam keterangan di Surabaya, Jawa Timur, Selasa.

Inovasi sosial Kang Ebit: SIMPEL menggabungkan peningkatan produktivitas pertanian dengan pemanfaatan limbah menjadi briket, asap cair untuk pestisida organik dan biochar sebagai pupuk organik.

Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga telah memfasilitasi pemanfaatan 205 ton limbah pertanian menjadi produk bernilai guna dengan omzet produksi briket meningkat 114 persen dari Rp336 juta pada 2025 menjadi Rp720 juta per tahun pada 2026.

Pengembangan usaha tersebut juga didukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang mampu menghemat biaya listrik hingga Rp6,8 juta per tahun dan mengurangi emisi sebesar 5,9 ton karbon dioksida ekuivalen per tahun.

Sementara pengolahan limbah berkontribusi menekan emisi sebesar 44,3 ton karbon dioksida ekuivalen per tahun.

"Program Kang Ebit: SIMPEL mendorong kemandirian masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," kata Ahad.

Fuel Terminal Manager Tuban Aan Nurochman menjelaskan program itu turut mengoptimalkan dua sumur bor yang sebelumnya terbengkalai melalui penerapan irigasi tetes, irigasi komunal, dan fertigasi.

Hal itu, kata Aan, membuat 25 petani Kelompok Tani Boro Tani Makmur yang mengelola lahan 3,5 hektare dapat meningkatkan frekuensi panen dari satu hingga dua kali menjadi tiga hingga empat kali per tahun.

Peningkatan produktivitas ini pun mendorong omzet petani naik 76 persen, dari rata-rata Rp850 ribu menjadi Rp1,5 juta per bulan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa.

“Integrasi pertanian produktif dan pengolahan limbah diharapkan meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban Anthon Tri Laksono mengapresiasi program tersebut karena dinilai mampu menyinergikan peningkatan nilai ekonomi limbah dengan upaya meminimalkan risiko pencemaran lingkungan.

Ibnu Fajar, masyarakat Desa Kapu, menilai inovasi ini membantu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengubah limbah panen yang sebelumnya tidak termanfaatkan menjadi sumber pendapatan.

“Produktivitas pertanian meningkat, sementara limbah hasil panen yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini memiliki nilai ekonomi," kata Ibnu.

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.