Perkuat ekosistem komunikasi, ANTARA dan Perhumas teken MoU
Perkuat ekosistem komunikasi, ANTARA dan Perhumas teken MoU
Minggu, 12 Juli 2026 08:35 WIB
Direktur Utama LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar (kiri), Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria (tengah), dan Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto (kanan) berfoto bersama usai penandatanganan nota kesepahaman mengenai penguatan ekosistem komunikasi Indonesia antara LKBN ANTARA dan Perhumas di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Sabtu (11/7/2026). (ANTARA/Pamela Sakina)
Jakarta (ANTARA) - Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk memperkuat ekosistem komunikasi Indonesia melalui kolaborasi dalam peningkatan kapasitas, literasi media, penyebaran informasi, dan penguatan peran humas di daerah.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyaksikan penandatanganan MoU tersebut, yang dilaksanakan dalam acara Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Sabtu.
"Saya berharap MoU ini bukan sekadar formalitas, tapi juga merupakan komitmen bersama atau contoh kita semua untuk memperkuat ekosistem komunikasi Indonesia," kata Direktur Utama LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar.
Kerja sama ANTARA dengan Perhumas, menurut dia, akan diwujudkan dalam program peningkatan kompetensi insan humas, penyelenggaraan forum-forum edukatif, peningkatan literasi media, pengembangan komunikasi krisis, dan kolaborasi publikasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Benny menyampaikan pentingnya kerja sama antara organisasi profesi dan media massa dalam upaya untuk menghadirkan informasi berkualitas yang dapat membangun optimisme dan memperkuat persatuan bangsa.
"Kolaborasi antara organisasi profesi dan media nasional menjadi sangat penting agar ruang publik dipenuhi oleh informasi yang berkualitas, membangun optimisme, dan memperkuat persatuan bangsa," ujarnya.
Benny juga mengemukakan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendatangkan tantangan baru bagi humas maupun jurnalis.
Menurut dia, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu profesi, tetapi pertimbangan dan pengambilan keputusan tetap harus berada di tangan manusia.
Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto mengatakan bahwa nota kesepahaman Perhumas dengan ANTARA mencakup kolaborasi dalam penyebaran informasi, pelatihan, dan penguatan kapasitas.
"Perhumas ini kan organisasi profesi Humas tertua dan terbesar di Indonesia. Kami melakukan MoU bersama dengan ANTARA untuk bisa berkolaborasi semua aspek dalam konteks komunikasi, pelatihan, penyebaran informasi, dan penguatan Humas-Humas di seluruh Indonesia," katanya.
Dia berharap biro-biro ANTARA yang tersebar di berbagai daerah dapat memperkuat peran Perhumas, yang saat ini memiliki 19 cabang di Indonesia.
"Mudah-mudahan dengan kolaborasi ini bisa semakin memperkuat peran humas di seluruh pelosok tanah air. Bagaimanapun antara humas dan media ini memiliki hubungan yang erat," kata dia.
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) untuk memposisikan profesi hubungan masyarakat (Humas) lebih strategis sebagai "clearing house of information" alias pusat penegasan informasi di tengah meningkatnya ancaman disinformasi dan misinformasi dalam lanskap komunikasi digital.
Menurut Nezar, derasnya arus informasi melalui platform digital membuat masyarakat semakin rentan terhadap penyebaran informasi yang menyesatkan sehingga profesi humas memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan publik.
"Di sini lah saya kira peran bagi Perhumas untuk bisa mengambil posisi yang lebih strategis, bagaimana menciptakan clearing house of information dengan kerja-kerja kehumasan yang lebih adaptif menghadapi teknologi yang berkembang cukup pesat belakangan ini," kata Nezar.
Ia mengatakan dunia saat ini telah memasuki era "post-truth", kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik, sementara masyarakat lebih mudah digerakkan oleh sentimen dibandingkan fakta.
"Kita masuk di era post-truth dan saya kira diskusi soal ini sudah cukup banyak, dan peran Humas menjadi sangat penting ketika noise yang begitu besar dalam lanskap komunikasi kita pada hari ini, dan juga disinformasi, misinformasi, fitnah, ujaran kebencian itu begitu deras, hadir lewat gawai yang kita punya," ujarnya.
Nezar mengutip kesimpulan World Economic Forum yang menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu risiko global utama. Menurut dia, penilaian tersebut disusun berdasarkan riset yang melibatkan banyak pemimpin dunia dan pelaku industri.
"Salah satu yang sangat berbahaya menurut World Economic Forum, disinformasi dan misinformasi itu menjadi global top risk yang disimpulkan oleh World Economic Forum," katanya.
Ia menambahkan perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) turut mengubah cara kerja profesi humas. Mengacu pada studi One Asia Communication tahun 2025, Wamen Nezar mengungkap praktisi humas di Asia, termasuk Indonesia, semakin memanfaatkan AI untuk pelacakan sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi pesan, hingga meningkatkan kualitas bernarasi.
Meski demikian, Nezar menegaskan pemanfaatan AI harus tetap berada dalam tata kelola yang baik dengan mengedepankan etika. Menurut dia, teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan unsur ketulusan yang menjadi bagian penting dalam komunikasi manusia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: ANTARA dan Perhumas teken MoU untuk perkuat ekosistem komunikasi
Pewarta : Pamela Sakina
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.