Perguruan tinggi perkuat kolaborasi untuk eliminasi TB di Indonesia - ANTARA News Jawa Timur

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berkolaborasi dengan menggagas upaya gotong royong lintas kementerian, untuk memperkuat penanganan tuberkulosis (TB) melalui pembentukan konsorsium yang melibatkan perguruan tinggi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menyampaikan bahwa penanganan TB perlu dikerjakan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, serta menggerakkan kekuatan yang dimiliki perguruan tinggi.

"TB ini harus kita tangani secara gotong royong. Perguruan tinggi punya kekuatan besar yang bisa kita hadirkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, melalui KKN tematik, pembelajaran transformatif, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," kata Fauzan dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Wamendiktisaintek mengatakan pengalaman penanganan TB di Palu menjadi pembelajaran dalam mengembangkan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi. Kolaborasi di Palu melibatkan perguruan tinggi, Kemdiktisaintek, Kemenkes, dan Kemendagri.

"Selanjutnya, kita akan memperluas pola ini ke daerah lain. Dalam waktu dekat kita akan mengembangkan kolaborasi di Jawa Barat dan DKI Jakarta bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta perguruan tinggi. Pola ini akan kita kembangkan secara nasional," ujarnya.

Berdasarkan hasil pemetaan di Jawa Barat dan Banten, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV telah mengidentifikasi 668 program studi relevan dan pendukung dari sekitar 3.000 program studi yang ada.

Dari pemetaan tersebut terdapat potensi 108.548 mahasiswa dari program studi relevan dan pendukung yang dapat berkontribusi sesuai kompetensi masing-masing, tidak hanya berasal dari bidang kesehatan, tetapi juga program studi yang dapat mendukung edukasi, komunikasi publik, data dan teknologi, pengabdian kepada masyarakat, serta penelitian.

Sebagai tahap awal di Jawa Barat, sekitar 10 persen dari potensi tersebut atau sekitar 10 ribu mahasiswa dapat dikaitkan dengan KKN tematik. Keterlibatan selanjutnya dapat diperluas melalui pengabdian mahasiswa dan dosen, termasuk peluang konversi satuan kredit semester (SKS), serta pengembangan penelitian.

Di DKI Jakarta, LLDikti Wilayah III Jakarta menyampaikan pemetaan sekitar 34 ribu mahasiswa dari program studi yang relevan. Pengalaman kolaborasi lima perguruan tinggi dengan Pemerintah Kota Jakarta Barat dalam penanganan TB juga menjadi bagian dari pengembangan kolaborasi di DKI Jakarta.

Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus mengatakan perguruan tinggi dapat berperan dalam memperkuat edukasi masyarakat mengenai TB.

"Maka, kuncinya harus menguasai masyarakat untuk mengerti bagaimana penanganan TB. Maka, kolaborasi kita dengan universitas untuk edukasi," ucap Wamenkes Benjamin.

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.