Penerimaan pajak terhimpun Rp1.409 triliun, tumbuh 24,1 persen
Penerimaan pajak terhimpun Rp1.409 triliun, tumbuh 24,1 persen
Jumat, 18 September 2026 12:57 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara. (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan penerimaan pajak terhimpun sebesar Rp1.409 triliun per 31 Agustus 2026, setara 59,8 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp2.357,7 triliun dan tumbuh 24,1 persen (year-on-year/yoy).
“Penerimaan pajak Rp1.409 triliun, pertumbuhannya 24,1 persen,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2026 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.
Secara komponen, penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) tercatat sebesar Rp591,5 triliun, setara 59,4 persen dari target dan mengalami pertumbuhan sebesar 38,9 persen.
Suahasil menyebut peningkatan PPN dan PPnBM ditopang oleh konsumsi dalam negeri dan daya beli yang kuat.
Baca juga: Menkeu Suahasil jamin hak restitusi pajak bakal dicairkan
Selanjutnya, pajak penghasilan (PPh) nonmigas terealisasi sebesar Rp722,2 triliun atau 62,6 persen dari target, dengan pertumbuhan 16,6 persen. Peningkatan ini utamanya dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas ekonomi serta penguatan administrasi pajak.
PPh migas juga mencatatkan kinerja positif dengan realisasi Rp39 triliun atau setara 70,6 persen dari target. Realisasi ini menandakan pertumbuhan signifikan sebesar 63,8 persen.
“Kalau harga migas dunia meningkat, maka revenue perusahaan tambah banyak, kemungkinan akan membayar pajak lebih tinggi. Maka pertumbuhannya 63,8 persen. Memang tidak instan, begitu (harga) naik, bayar pajak tinggi. Tapi, tren itu tetap bisa kita ikuti,” jelas Menkeu.
Sementara pajak bumi dan bangunan (PBB) serta pajak lainnya tercatat sebesar Rp56,4 triliun atau 36,8 persen dari target.
Berbeda dengan komponen lain yang mengalami pertumbuhan, PBB dan pajak lainnya terkoreksi sebesar 15,7 persen. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatkan kepatuhan Surat Pemberitahuan (SPT), di mana pajak terutang dilunasi via deposit.
Secara keseluruhan, Suahasil menyebut penerimaan pajak bergerak positif karena didukung oleh peningkatan aktivitas ekonomi, termasuk pergerakan harga serta penguatan administrasi pajak.
Dari sisi administrasi pajak, bendahara negara mengatakan Coretax termasuk faktor yang mendukung kinerja penerimaan.
“Aplikasi Coretax pada 2026 ini, baik ketika kita menutup tahun pajak kemarin bulan April, telah menunjukkan dampak. Wajib pajak sekarang tidak perlu mengumpulkan bukti potong sendiri-sendiri lagi, ada di dalam sistem semuanya,” tuturnya.
Baca juga: APBN defisit Rp240,1 triliun per Agustus 2026
Adapun bila ditinjau berdasarkan jenis pajak, pertumbuhan utamanya ditopang oleh PPh badan, PPN dalam negeri (DN), serta pajak impor.
PPh badan terealisasi Rp243,7 triliun dan mencatatkan pertumbuhan kumulatif 25,5 persen secara neto. Jenis pajak ini mengalami eskalasi positif terutama pada sektor terkait minyak kelapa sawit yang profitabilitasnya meningkat karena kenaikan harga serta penurunan restitusi.
PPN DN tercatat sebesar Rp314,8 triliun atau tumbuh kumulatif 53,9 persen secara neto, yang disebabkan oleh manajemen restitusi di sektor perdagangan besar bahan bakar minyak (BBM).
Sedangkan PPN impor mencapai Rp259,1 triliun atau tumbuh kumulatif 27,8 persen secara neto, didorong oleh peningkatan harga minyak dan pelemahan kurs.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Penerimaan pajak terhimpun Rp1.409 triliun, tumbuh 24,1 persen
Pewarta : Imamatul Silfia
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026