◐

Pemuda Palembang Kawal Asta Cita Prabowo-Gibran Lewat Hilirisasi dan Transisi Energi

Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peran Pemuda dalam Suksesi Program Asta Cita Prabowo–Gibran: Hilirisasi Batubara dan Transisi Energi” yang digelar Generasi Ampera di sebuah kafe di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (24/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa, masyarakat, dan insan media.

Founder Generasi Ampera, M. Anwarul Fitro, mengatakan keterlibatan pemuda diperlukan untuk mendukung pembangunan nasional, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam dan penguatan ketahanan energi.

Menurutnya, pemuda memiliki posisi strategis dalam mengawal kebijakan pemerintah agar program pembangunan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan. Mereka harus mengambil peran aktif dengan memahami kebijakan pemerintah, memberikan gagasan konstruktif, serta ikut mengawal pelaksanaan program strategis nasional,” kata Fitro saat membuka diskusi.

Ia berharap forum tersebut dapat memperluas pemahaman generasi muda mengenai peluang pengembangan industri hilirisasi di Sumsel sekaligus mendorong partisipasi mereka dalam pembangunan daerah.

Ketua DPD KNPI Sumsel, Rudianto Widodo, yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan bahwa persoalan energi berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Dampaknya mencakup kebutuhan listrik rumah tangga, biaya produksi industri, hingga pembukaan lapangan kerja.

Ia menjelaskan, hilirisasi menjadi langkah penting agar sumber daya alam Indonesia tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.

“Dengan demikian, pengembangan industri diharapkan dapat menciptakan peluang kerja, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta memperkuat perekonomian nasional,” ujar Rudianto.

Rudianto menambahkan, agenda hilirisasi dan kemandirian energi sejalan dengan arah kebijakan Asta Cita.

Karena itu, pemuda perlu berkontribusi melalui peningkatan kapasitas, inovasi, pengawasan yang bertanggung jawab, serta kolaborasi antara kampus, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha.

Menurutnya, organisasi kepemudaan dapat memulai langkah konkret melalui edukasi energi, gerakan efisiensi penggunaan listrik, diskusi kebijakan, hingga pengembangan gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan daerah.

Sementara itu, dosen Teknik Pertambangan Batubara sekaligus peneliti ekonomi dan kebijakan energi, Fadhil Mahdyrianto, menguraikan potensi sumber daya alam Indonesia, khususnya batu bara, dalam mendukung ketahanan energi dan pengembangan industri nasional.

Fadhil menilai, hilirisasi perlu diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang melalui peningkatan nilai tambah produk dan penguatan daya saing industri dalam negeri.

“Hilirisasi harus mampu menciptakan nilai tambah yang nyata, memperkuat daya saing industri, serta memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, pengembangan industri batu bara perlu memperhatikan aspek teknologi, efisiensi, kebutuhan investasi, serta tantangan peralihan menuju sistem energi rendah karbon.

Fadhil juga menyoroti pentingnya transisi energi yang realistis, terukur, dan berkeadilan.

Menurutnya, transformasi sektor energi tidak cukup hanya dengan mengubah sumber energi, tetapi juga memerlukan kesiapan teknologi, peningkatan efisiensi operasional pertambangan, dan upaya pengurangan emisi.

Dalam konteks Sumsel yang memiliki aktivitas pertambangan batu bara, kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu aspek penting.

Peningkatan keterampilan tenaga kerja serta penguatan keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri diperlukan agar masyarakat daerah penghasil sumber daya alam turut merasakan manfaat hilirisasi dan transformasi energi.

Baca Juga: Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Hilirisasi dan Konektivitas Jadi Kunci Penguatan Ekonomi Jatim