Pemkot Pekalongan-BI komitmen memperkuat UMKM dan budaya lokal

Pemkot Pekalongan-BI komitmen memperkuat UMKM dan budaya lokal

Selasa, 14 Juli 2026 15:06 WIB

Image Print

Wakil Wali Kota Pekalongan Bilqis Diab menyaksikan pembuatan bubur suro oleh warga Kelurahan Krapyak Kota Pekalongan, belum lama ini. ANTARA/HO-Humas Kota Pekalongan

Pekalongan (ANTARA) - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah bekerja sama dengan Bank Indonesia Tegal dan Syariah Festival Ekonomi 2026 berupaya memperkuat pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah dan melestarikan budaya lokal melalui Festival Bubur Suro.

"Festival Bubur Suro ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan UMKM, memperkuat literasi keuangan, serta melestarikan kearifan lokal," kata Wakil Wali Kota Pekalongan Bilqis Diab di Pekalongan, Selasa.

Menurut dia, festival ini sudah memasuki tahun ketujuh tidak hanya menampilkan Bubur Suro tetapi juga bagaimana masyarakat menjadi lebih melek digital dan memahami literasi keuangan.

Festival Bubur Suro, kata dia, memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi agenda budaya unggulan yang mampu memperkuat identitas masyarakat.

Ia mengatakan selain dikenal dengan tradisi Lopis Raksasa dan tenun, Festival Bubur Suro dapat menjadi daya tarik baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkaya khazanah budaya daerah.

"Sebagai salah satu daya tarik utama, festival ini menghadirkan bazar yang diikuti 76 stan UMKM terdiri atas 50 UMKM binaan Bank Indonesia Tegal dan 26 UMKM dari Kelurahan Krapyak serta sekitarnya," katanya.

Ia mengatakan kehadiran puluhan pelaku usaha tersebut membuka peluang promosi produk lokal sekaligus meningkatkan transaksi ekonomi.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal Seno Indarto menyampaikan bahwa sinergi antara festival budaya dan penguatan ekonomi syariah diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

"Kegiatan ini untuk meningkatkan ekosistem ekonomi syariah, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembelanjaan UMKM, sekaligus melestarikan kebudayaan, khususnya di Kota Pekalongan," katanya.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan Andi Arslan Djunaid menilai Festival Bubur Suro merupakan aset budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda berskala lebih luas.

"Kami menilai kegiatan budaya yang mampu menarik banyak pengunjung akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM," katanya.

Festival Bubur Suro yang digelar pertama kali pada 2019, terus berkembang baik dari konsep, lokasi, maupun jumlah pengunjung.

Tahun ini, jumlah bubur yang dibagikan kepada masyarakat juga meningkat dari 3.000 menjadi 5.000 porsi sebagai bentuk komitmen melestarikan tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi dan kebersamaan warga.

Baca juga: Pemkot Pekalongan-BI tingkatkan SDM petani untuk memperkuat ketahanan pangan

Pewarta: Kutnadi
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.