Pemkab Sumba Timur memanfaatkan media sosial promosikan 14 desa wisata
Pemkab Sumba Timur memanfaatkan media sosial promosikan 14 desa wisata
Senin, 31 Agustus 2026 12:52 WIB
Ilustrasi - Jejeran Bukit Tanarara menjadi salah satu andalan destinasi wisata ikonik di Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba, NTT. (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)
Kupang, NTT (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, memperluas pemasaran 14 desa wisata melalui promosi digital di media sosial untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur Yudi Umbu Rawambaku dihubungi dari Kupang, Senin, mengatakan promosi digital menjadi salah satu strategi untuk memperkenalkan potensi desa wisata kepada wisatawan secara lebih luas.
"Media sosial menjadi sarana penting untuk memperkenalkan keindahan alam, tradisi, budaya dan berbagai potensi yang dimiliki desa wisata di Sumba Timur," katanya.
Hal itu disampaikan berkaitan dengan upaya Pemkab Sumba Timur mengembangkan dan mempromosikan 14 desa wisata melalui pemanfaatan media digital untuk memperluas jangkauan informasi kepada wisatawan.
Ia menjelaskan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan memanfaatkan sejumlah platform digital, seperti Instagram, Facebook dan TikTok, untuk mempromosikan daya tarik desa wisata melalui foto, video pendek, serta informasi mengenai kegiatan dan potensi lokal.
Menurut dia, penggunaan Instagram dan TikTok diarahkan untuk menampilkan visual destinasi, tradisi, serta kehidupan masyarakat, sedangkan Facebook dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi publik dan agenda kegiatan budaya.
"Melalui promosi digital, masyarakat dari luar Sumba Timur dapat lebih mudah mengenali potensi desa wisata yang sebelumnya belum banyak diketahui," ujarnya.
Ia mengatakan Kabupaten Sumba Timur memiliki 14 desa wisata yang tersebar di sejumlah wilayah dengan tiga klasifikasi, yakni desa wisata alam atau agrowisata, desa wisata budaya dan desa wisata bahari.
Ke-14 desa wisata tersebut meliputi Lainjanji, Kaliuda, Rende, Watuhadang, Hawurut, Mondu, Praimadita, Tarimbang, Tandula Jangga, Lambanapu, Pariliu, Maulumbi, Kadumbul dan Pambota Njara.
Yudi mengatakan keberadaan desa wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Sumba Timur yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Menurut dia, tradisi masyarakat adat, kerajinan tenun, kehidupan budaya, serta ritual penghayat kepercayaan Marapu merupakan bagian dari kekayaan lokal yang dapat diperkenalkan sebagai daya tarik wisata dengan tetap menjaga nilai dan kearifan masyarakat setempat.
"Potensi alam dan budaya yang dimiliki desa perlu dikemas menjadi informasi dan produk wisata yang menarik sehingga wisatawan memiliki alasan untuk berkunjung dan tinggal lebih lama," katanya.
Ia menambahkan promosi desa wisata juga dapat terintegrasi dengan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), seperti kuliner, kerajinan dan cenderamata, sehingga aktivitas pariwisata turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
"Ketika desa wisata semakin dikenal, produk masyarakat juga memiliki peluang untuk ikut dipasarkan dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian warga," ujarnya.
Yudi mengatakan Pemkab Sumba Timur juga mendorong penggunaan identitas visual desa wisata sebagai bagian dari upaya memperkuat pengenalan destinasi.
Menurut dia, logo desa wisata menjadi identitas yang membedakan setiap destinasi sekaligus memudahkan masyarakat dan wisatawan mengenali potensi yang ditawarkan.
Ia menjelaskan logo promosi desa wisata Sumba Timur menggunakan simbol rumah adat dan kuda, sedangkan warna biru, hijau dan cokelat merepresentasikan klasifikasi desa wisata bahari, alam dan budaya.
"Identitas visual ini penting agar desa wisata lebih mudah dikenali, baik dalam promosi digital maupun media promosi lainnya," katanya.
Dia menambahkan pemasaran digital diharapkan tidak hanya meningkatkan keterkenalan destinasi, tetapi juga memperluas akses pasar bagi masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pariwisata di desa.
"Harapannya, semakin banyak orang mengenal desa wisata di Sumba Timur, semakin besar pula peluang masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari potensi yang mereka miliki," ujarnya.
Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.