Pemkab Kutim perkuat rantai pasok pangan di tengah persaingan harga - ANTARA News Kalimantan Timur
Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, terus berupaya memperkuat rantai pasok pangan lokal, sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah di tengah persaingan harga dan tingginya biaya produksi.
"Penguatan rantai pasok pangan lokal sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah apabila terjadi gangguan distribusi dari Jawa maupun Sulawesi," ujar Wakil Bupati Kutim Mahyunadi di Sangatta, Kamis.
Ia mengatakan bahwa penguatan sektor pertanian dan peternakan menjadi langkah strategis untuk menghadapi potensi gangguan distribusi pangan, termasuk akibat krisis global.
Untuk itu, pemda terus mendorong Koperasi Merah Putih dapat menjadi pusat penampungan hasil produksi masyarakat, mulai ayam beku, padi hingga produk hortikultura, sekaligus memperpendek rantai distribusi dan memperkuat pemasaran pangan lokal.
Mahyunadi melanjutkan, produksi padi di Kutim saat ini menunjukkan hasil positif dengan rata-rata di 7 ton per panen, menyamai produktivitas di Pulau Jawa dan Sulawesi, sehingga hal ini menggembirakan karena adanya kemajuan bidang pertanian.
Sehari sebelumnya, saat menghadiri syukuran panen perdana ayam pedaging Koperasi Perhiptani Agro Bengalon di Desa Tepian Baru, Rabu (2/9), ia mengatakan bahwa pengembangan pangan tidak hanya dilakukan melalui komoditas padi, tetapi juga jagung, termasuk melalui uji coba penanaman di lahan bekas tambang.
Sementara tantangan berat yang dihadapi peternak ayam mandiri karena investasi pembangunan kandang dapat mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta.
Dengan asumsi keuntungan bersih sekitar Rp2.000 per ekor, peternak membutuhkan hingga 25 siklus panen atau sekitar tiga tahun untuk mencapai titik impas.
Persoalan lainnya adalah persaingan harga. Ayam beku dari Pulau Jawa yang masuk ke Kalimantan Timur dapat dijual sekitar Rp19.000 per kilogram, sedangkan biaya produksi ayam lokal rata-rata mencapai Rp20.000 per kilogram.
Mahyunadi menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi ketersediaan bahan baku pakan yang lebih murah di Jawa, antara lain jagung, limbah pengolahan udang sebagai sumber protein, dan bekatul.
Sedangkan pengembangan pabrik pakan mandiri di Kutim masih menghadapi kendala bahan baku serta pilihan masyarakat yang cenderung mengembangkan kelapa sawit karena dinilai lebih menguntungkan.
"Masyarakat selalu mengukur dengan sawit. Lebih untung mana sawit dengan jagung? Tidak mungkin kita memaksa masyarakat menanam sesuatu yang membuat mereka tidak lebih untung," ujarnya.
Untuk mendukung pertanian di wilayah yang minim irigasi alami, Pemkab Kutim juga menyiapkan pemanfaatan sumur bor dengan pompa bertenaga surya. Teknologi tersebut diharapkan dapat menyediakan air secara otomatis saat matahari bersinar.
Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.