Pemkab Banyumas memperkuat deteksi dini untuk cegah talasemia mayor
Pemkab Banyumas memperkuat deteksi dini untuk cegah talasemia mayor
Kamis, 17 September 2026 13:21 WIB
Pelaksanaan skrining talasemia bagi 1.000 mahasiswa di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (17/9/2026). ANTARA/Sumarwoto
Purwokerto (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, Jawa Tengah, memperkuat deteksi dini talasemia melalui edukasi dan skrining pembawa sifat penyakit tersebut, sebagai upaya mencegah lahirnya penderita talasemia mayor yang membutuhkan perawatan berkelanjutan.
“Jumlah pasien talasemia di Banyumas terus bertambah. Dua tahun lalu sekitar 400 lebih pasien, sekarang sudah mencapai 657 pasien,” kata Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Kabupaten Banyumas Dani Esti Novia usai pembukaan kegiatan Skrining Talasemia di Purwokerto, Kamis.
Dia mengatakan pasien talasemia membutuhkan transfusi darah secara rutin. Oleh karena itu, kata dia, skrining penting dilakukan untuk mengetahui pembawa sifat atau talasemia minor, terutama pada usia muda.
“Kegiatan ini merupakan upaya deteksi dini. Jika seseorang terdeteksi sebagai pembawa talasemia minor perlu diberikan edukasi agar tidak berpasangan dengan sesama pembawa sifat,” katanya.
Dia menjelaskan talasemia merupakan penyakit genetik yang dapat diturunkan dari orang tua kepada anak.
Jika kedua orang tua merupakan pembawa sifat, kata dia, terdapat risiko anak mengalami talasemia mayor yang membutuhkan pengobatan seumur hidup.
Sementara dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinkes-KB Dani Esti Novia, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan kolaborasi pemerintah daerah, institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan pemangku kepentingan penting untuk memperluas edukasi kesehatan masyarakat.
“Kalau berbicara soal talasemia, ada pasien yang butuh perawatan dan pengobatan berkelanjutan, ada keluarga yang terus-menerus mendampingi, ada biaya dan perhatian yang harus diberikan berkelanjutan,” katanya.
Berdasarkan data yang disampaikan Bupati, sekitar 657 pasien talasemia di Banyumas saat ini menjalani perawatan di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto dan RSUD Banyumas.
Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Prof Jebul Suroso mengatakan skrining talasemia penting dilakukan mahasiswa untuk mengetahui risiko kesehatan sejak dini, sekaligus mendorong terbentuknya generasi yang sehat.
“Dengan skrining, harapannya kita bisa tahu lebih awal dan bisa melakukan antisipasi agar kita bisa hidup lebih sehat,” katanya.
Ia mengatakan pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa, tidak hanya agar memiliki kompetensi profesional, juga memahami pentingnya kesehatan diri dan keluarga.
Menurut dia, hasil skrining dapat memberikan informasi mengenai kondisi kesehatan serta risiko yang mungkin dimiliki seseorang, termasuk risiko yang berkaitan dengan talasemia.
Klinisi Patologi Klinik/Dokter Spesialis Imunologi Prof Tonang Dwi Ardyanto mengatakan sekitar 3–10 persen populasi Indonesia merupakan pembawa sifat talasemia.
“Indonesia berada di kawasan talasemia belt dan menjadi salah satu wilayah dengan angka hemoglobinopati yang cukup tinggi,” katanya.
Skrining terhadap 1.000 mahasiswa UMP dilakukan bertahap pada 17–24 September 2026.
Baca juga: Polresta Banyumas bongkar kasus penjualan perhiasan emas palsu
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.