◐

PBNU Terbitkan Pedoman Hari Santri 2026: Apel Serentak, Ziarah hingga Mujahadah untuk Palestina |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional Tahun 2026. Peringatan Hari Santri tahun ini mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” dan diarahkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga diisi dengan penguatan tradisi, pelayanan kepada masyarakat, serta solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

Pedoman tersebut tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 1 Oktober 2026. Surat ditujukan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengatakan perhatian NU terhadap Palestina memiliki akar sejarah panjang yang diwariskan para pendiri NU. Ia mengingatkan bahwa dukungan terhadap rakyat Palestina telah disuarakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sejak sebelum Indonesia merdeka dan terus dirawat hingga sekarang, termasuk melalui pembacaan Qunut Nazilah di Pesantren Tebuireng.

“Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina,” kata Gus Kikin, Sabtu (3/10/2026).

Dalam pedoman Hari Santri 2026, PBNU meminta seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip kekhidmatan, kesederhanaan, serta berorientasi pada pelayanan kepada jamaah dan warga NU.

Salah satu agenda utama adalah Apel Hari Santri Nasional 2026 yang dilaksanakan secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026. Peserta pria mengenakan sarung warna gelap, atasan putih dan peci hitam. Sementara peserta perempuan mengenakan busana muslimah bernuansa putih dengan bawahan yang menyesuaikan.

Apel dapat dipusatkan di halaman sekretariat NU sesuai tingkatan kepengurusan masing-masing maupun di lingkungan pondok pesantren, rumah sakit atau klinik, sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Dalam apel tersebut, Naskah Resolusi Jihad NU juga dapat dibacakan oleh jajaran Tanfidziyah atau Badan Otonom NU.

PBNU juga menginstruksikan agar rangkaian Hari Santri diawali dengan ziarah ke makam para ulama, aulia, maupun muharrik Nahdlatul Ulama di wilayah khidmah masing-masing. Ziarah ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar untuk menjaga kesinambungan tradisi dan mengenang perjuangan para ulama pendahulu.

Secara khusus, PBNU menjadikan solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina sebagai bagian dari rangkaian Hari Santri 2026.

Seluruh jenjang kepengurusan NU diminta menggelar “Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina” melalui majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah, maupun majelis doa lainnya. PBNU menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari riyadhah bathiniyyah sekaligus wujud solidaritas kemanusiaan terhadap bangsa Palestina.

Komitmen tersebut sejalan dengan perhatian yang disampaikan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar ketika menerima sejumlah tokoh Palestina di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Ahad (27/9/2026). Dalam pertemuan itu hadir antara lain Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan Mahmoud S.A. Al-Habash, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Sheikh Mohammad A.M. Hussein, serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Satar.

“Selamat datang di rumah Anda sendiri dan di tengah saudara-saudara Anda,” kata Kiai Miftach saat menerima rombongan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Kiai Miftach turut mendoakan keselamatan dan kedamaian rakyat Palestina. Ia juga berharap terbuka jalan bagi umat Islam untuk dapat beribadah di Masjidil Aqsa dalam keadaan merdeka dan bermartabat. Pertemuan membahas antara lain isu keumatan, kemanusiaan, pendidikan dan perdamaian dunia.

sumber : Antara