Panen Raya Lumbung Pangan BAZNAS, Petani Batu Bara kini tak lagi bergantung pada rentenir - ANTARA News Sumatera Utara

Batubara (ANTARA) - Program Lumbung Pangan Padi BAZNAS terus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Batu Bara. Rabu (22/7/2026), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia menggelar panen raya di Desa Kuala Gunung, Kecamatan Datuk Lima Puluh, sekaligus meninjau langsung perkembangan program yang telah berjalan sejak 2018.

Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, hadir menyaksikan proses panen bersama kelompok tani penerima manfaat. Ia mengatakan panen dilakukan oleh kelompok tani yang masing-masing beranggotakan sekitar 30 petani.

Menurut Sodik, Program Lumbung Pangan Padi merupakan bagian dari upaya BAZNAS memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sektor pertanian. Program tersebut kini telah berjalan di sekitar 30 titik di Indonesia dengan luas lahan mencapai kurang lebih 4.500 hektare sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.

Di Kabupaten Batu Bara, program ini berkembang menjadi salah satu sentra pemberdayaan petani. Sebanyak 258 petani mustahik mengelola lahan seluas 180,30 hektare yang tersebar di empat kecamatan, yakni Datuk Lima Puluh, Air Putih, Sei Balai, dan Datuk Tanah Datar.

Program ini diinisiasi sejak 2018 melalui kolaborasi BAZNAS Kabupaten Batu Bara dan BAZNAS Provinsi Sumatera Utara dengan skema dana bergulir. Pada 2025, BAZNAS RI memperkuat ekosistem tersebut dengan menambah luas lahan sawah 32 hektare serta melibatkan 52 petani tambahan.

Secara nasional, Program Lumbung Pangan Padi dilaksanakan di 20 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi, dengan melibatkan 1.629 mustahik sebagai penerima manfaat.

Sodik menjelaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari meningkatnya kemandirian ekonomi petani. Bahkan, sebagian penerima manfaat di Batu Bara kini telah mampu mengembalikan manfaat kepada masyarakat melalui zakat dan infak dari hasil panen.

"Kurang lebih sekitar Rp16 juta dari hasil panen seorang petani dapat kembali disalurkan melalui zakat untuk membantu masyarakat lainnya," ujarnya.

Salah seorang petani penerima manfaat, Rusdianto, mengaku bantuan dana tunai dari BAZNAS digunakan kelompok tani untuk membeli pupuk dan pestisida. Bantuan itu, menurutnya, mengurangi ketergantungan petani terhadap pinjaman berbunga tinggi dari rentenir.

Selama ini, kata Rusdianto, petani kerap terpaksa meminjam modal dengan bunga yang memberatkan. Dengan adanya bantuan modal tersebut, kebutuhan produksi dapat dipenuhi tanpa harus berutang, sehingga hasil panen lebih banyak dinikmati untuk kebutuhan keluarga dan membayar zakat.

Meski hasil panen tahun ini menurun dibanding musim sebelumnya, Rusdianto tetap bersyukur karena harga gabah berada pada kisaran Rp6.900 hingga Rp7.000 per kilogram. Dari lahan yang dikelola, produktivitas rata-rata mencapai sekitar 5,5 ton gabah.

Pewarta: Gusti Sinaga
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.