[Opini] Apakah Kini Nintendo Jadi Benteng Terakhir Rilisan Game Fisik?

Generasi 90-an yang hidup di zaman memainkan game PS1 atau PS2 tentu sudah tidak asing lagi dengan kaset CD game. Meski kebanyakan yang kita mainkan adalah game bajakan, tetapi sensasi memasukkan piringan disc dalam konsol merupakan pengalaman yang tidak mungkin terlupakan.

Bahkan ketika sudah dewasa pun, disc yang awalnya hanya berbentuk CD atau DVD sudah berganti menjadi Blu-ray Disc di era PS3. Game menjadi sangat realistis, punya gameplay yang lebih imersif, dan lebih fun. Masuk ke era PS4 pun masih serupa. Sony masih mempertahankan konsol dengan disc drive meski gempuran game digital ketika itu sudah cukup tinggi.

Namun, ada yang terasa janggal ketika masuk ke era PS5. Konsol yang sejatinya rilis ketika COVID ini langsung punya 2 varian ketika baru dikenalkan. Ada model yang menggunakan Disc drive, ada pula model full digital tanpa pemutar BD sama sekali. Era ini kerap menimbulkan kekhawatiran kalau Sony akan perlahan namun pasti memutuskan untuk meninggalkan game fisik seutuhnya.

Belum memasuki era PS6, kekhawatiran tersebut ternyata sudah menjadi kenyataan. Sony, baru–baru ini mengumumkan akan berhenti meriliis game fisik untuk PlayStation terhitung awal tahun 2028. Keputusan ini mengejutkan sekaligus memprihatinkan. Bagaimana tidak, model distribusi disc sudah menjadi ikon dari PlayStation itu sendiri sejak kelahirannya di PS1 tahun 1995.

30 Tahun setelahnya, Sony malah beranggapan kalau model distribusi yang menjadikan mereka beda dari kompetitor di kala itu sudah tidak lagi sustainable. Keputusan untuk meninggalkan media fisik seutuhnya ini sebenarnya juga sedikit banyak dipengaruhi oleh tren pergeseran minat pasar. Kalau mau berbicara soal siapa duluan, Xbox sebenarnya sudah melakukan itu sejak beberapa tahun lalu. Tapi, mengapa ketika Sony yang melakukannya seketika jadi heboh?

Sejatinya, pangsa pasar Sony termasuk besar untuk penjualan hardware konsol. Otomatis, banyak pula gamer yang masih sering membeli game fisik sesekali jika ia sangat suka dengan game tersebut. Jadi, berita soal kematian game fisik menjadi pukulan yang sangat keras bagi fans.

Belum lagi menyentuh soal pergerakan retail yang akan semakin merosot dengan hilangnya kaset-kaset game PS. Kini, raksasa game seperti GameStop atau retail lainnya hanya menyisakan penjualan voucher digital atau cartridge Nintendo saja begitu Sony tidak lagi rilis game disik PS. Bahkan, GameStop sendiri sudah mulai merambah ke penjualan trading card game karena saking kosongnya etalase yang menjual game fisik.

Sepertinya sudah cukup preambul panjang kita kali ini, saatnya masuk ke inti pembahasan: dengan matinya game fisik Sony, apakah berarti Nintendo akan menjadi harapan terakhir penjualan fisik ke depannya?

Nintendo Jadi Benteng Terakhir, Atau Juga Menyusul?

Game Card
Game Card

Berbeda dengan Sony atau Xbox yang menyerah begitu saja, Nintendo tampil beda dengan perilisan konsol baru mereka, Switch 2. Apalagi kalau dilihat penjualan game fisik mereka masih tergolong tinggi dan harga di market secondary tergolong stabil.

Secara target pasar sendiri pun, Nintendo memiliki arah yang berbeda dibandingkan duo rival mereka. Nintendo menempatkan diri mereka sebagai konsol keluarga dan anak-anak dimana budaya memberikan hadiah masih sangat lumrah. Orang tua di Jepang masih gemar memberikan hadiah berupa konsol atau game Switch ketika anaknya ulang tahun atau naik kelas.

Di belahan bumi lain, game-game Switch atau lebih lawasnya juga kerap jadi incaran. Bahkan, banyak gamer lebih rela menunggu gamenya dikirim lewat ekspedisi ketimbang harus membelinya via eShop. Alasannya bermacam-macam, ada yang memang masih gemar mengoleksi fisik, ada yang memang ingin menjual game tersebut setelah tamat. Siklus ini menjadi sangat digemari dan sulit untuk dihancurkan, setidaknya untuk sekarang.

Tapi yang jelas, pasar game Nintendo masih sangat kuat di fisik. Belum lagi, posisi konsol Switch yang berupa hybrid handheld ini membolehkan game-nya bisa punya kapasitas lebih kecil dari game triple A PC yang butuh 150GB-300GB. Game juga masih berjalan di cartridge sepenuhnya, tidak seperti PS atau Xbox yang masih mengandalkan SSD sebagai penyimpanan. Disc hanya berfungsi untuk memasang game pertama kali dan sebagai verifikator lisensi saja.

Semua Tentang Preservasi Game

Switch Game Card
Upaya untuk preservasi game

Mari sedikit kita membahas kembali tentang Sony. Bertepatan dengan pengumuman akan menghentikan penjualan game fisik, Sony juga sekaligus umumkan bakal secara bertahap menutup toko digital PS3 dan PS Vita. Keputusan ini menimbulkan kritik keras dikalangan gamer karena hilangnya cara preservasi game.

Jika sebuah toko game digital tutup dan kaset game fisik sudah tidak lagi dirilis, maka bukan tidak mungkin kalau perlahan namun pasti game dimaksud akan menghilang dari peredaran. Otomatis, ketika IP tersebut tidak dibangkitkan kembali oleh developer lewat remaster atau remake di konsol terbaru, maka dapat dipastikan judul itu akan menjadi lost media.

Nintendo juga sebenarnya tidak luput dari dosa serupa. Tak jarang game di konsol klasik lawas punah begitu saja begitu layanan store digital ditutup. Tapi, dibanding kedua platform lain, Nintendo masih jauh lebih mending. Setidaknya, konsol Switch masih bisa memainkan game dari konsol retro Nintendo lewat emulasi, meski harus berlangganan Nintendo Online.

Game-Key Card: Setengah Hati atau Terpaksa Bertransformasi?

Gkc
Game-Key card

Mungkin muncul pertanyaan di benakmu sejak perkenalan Switch 2 yang juga turut mengenalkan Game-Key card. Jenis cartridge baru ini tidak berisikan data game dan hanya berupa kode aktivasi download game saja. Jadi, ketika GKC dimasukkan ke konsol Switch 2, ia akan secara otomatis mendownload game dari server.

Kemunculan GKC lalu mendapatkan kecaman besar dari gamer yang peduli terhadap game fisik Nintendo. Pasalnya, ia bukan lagi game fisik yang mereka kenal selama ini. Tanpa koneksi internet, maka GKC hanya sebuah plastik merah persegi panjang yang kebetulan masuk ke slot game card Switch 2.

Tapi, mengapa harus ada inovasi yang kedengaran tidak perlu ini? Nintendo sepertinya merasa kalau mereka tidak bisa serta-merta meninggalkan pasar kolektor fisik begitu saja. Meski ukuran game saat ini yang sudah menyentuh angka ratusan GB, mau tidak mau mereka harus bisa menyediakan sebuah benda fisik meskipun di dalamnya tidak lagi muat data satu game penuh.

Siasat yang awalnya mungkin Nintendo beranggapan jenius ini ternyata tidak dapat respons positif dari gamer. Hanya saja, transisi ini memang perlu dilakukan mengingat Switch 2 menyasar pasar yang sama dengan PC, yaitu hardware powerful yang bisa memainkan game kelas AAA.

Belum lagi Nintendo juga sepertinya sudah mulai merasakan betapa nikmatnya profit penjualan digital. Game bisa laku secara instan tanpa perlu membuat cartridge, mencetak packing, membungkus, dan mengirimnya ke toko-toko game. Mungkin saja penjualan game digital Switch 2 belum mencapai angka 80% seperti Sony, jika iya bukan tidak mungkin juga perusahaan ini juga turut beralih ke full digital.

Kesimpulan

Untuk sekarang Nintendo masih menjadi barisan pertahanan terakhir sebelum industri game beralih ke full-digital. Ketika Nintendo juga sudah menyerah, maka disaat itulah preservasi game akan sepenuhnya mati. Untuk sekarang, peta kompetisi game fisik masih dimenangi Nintendo. Tapi, seberapa lama ia mampu bertahan? 5 tahun? 10 tahun lagi? Gimana menurut kamu?


Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected].