◐

Operasi modifikasi cuaca

Secara teori dan teknis, OMC tidak membuat hujan dari langit kosong. Tapi mempercepat hujan dari bibit awan yang sudah ada dengan menyemai NaCl/CaO dari pesawat. Tujuannya dua. Di musim hujan , mengurangi curah  hujan untuk mencegah banjir. Di musim

Mataram (ANTARA) - NTB kini terasa masih di puncak kemarau. Hari-hari belakangan ini cuaca terasa  panas menyengat.

Kemarin waktu MotoGP  kelima di Sirkuit Mandalika ( 9-11/10 ), langit sangat cerah. Berpadu laut biru. Tidak ada titik awan sama sekali. Tidak ada Mbak Rara. Tapi pawang rakyat Mandalika tetap siaga. 

Beda dengan F1 di Singapura. Panitia dan penonton H2C. Sirkuit diselimuti awan kelabu. Semua mengeluhkan kabut asap yang datang dari hutan  Sumatera dan Kalimantan yang terbakar.

Menurut BMKG,  hampir seluruh wilayah NTB masuk kategori kering. Akibat El Nino kuat, diperkirakan hujan belum akan turun normal sampai bulan November. Lalu perlukah  dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi cuaca panas dan memancing hujan turun ?

Secara teori dan teknis, OMC tidak membuat hujan dari langit kosong. Tapi mempercepat hujan dari bibit awan yang sudah ada dengan menyemai NaCl/CaO dari pesawat. Tujuannya dua. Di musim hujan , mengurangi curah  hujan untuk mencegah banjir. Di musim kemarau untuk mendatangkan hujan guna mengatasi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pada tahun 2026, OMC dilakukan di beberapa tempat. Di Jabodetabek (fase 1 bulan Januari 2026) untuk mencegah banjir dengan  menyemai awan di Selat Sunda agar hujan jatuh di laut.

Di Danau Toba dan  DAS Toba-Asahan (September - Oktober 2026). Tujuannya untuk  mengatasi kekeringan akibat El Niño, menjaga elevasi Danau Toba untuk air minum, pangan, dan listrik.

Di IKN  dan Kalimantan Timur ( Agustus 2026 ) tujuannya untuk isi ulang waduk IKN yang kritis dan membasahi 13.273 titik panas karhutla. Demikian juga di 
DAS Citarum (Saguling, Cirata,  Jatiluhur), di Sumatera Selatan ( OKI - OKU ) dan lainnya. Bagaimana di NTB ?

Bicara OMC untuk mengisi waduk dan dialirkan ke sungai, jadi ingat kunker Presiden Jokowi tanggal 30 April - 2 Mei 2024.  3 hari 2 malam di NTB. Presiden didampingi  Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. Sebagai Pj Gubernur, untuk memudahkan koordinasi dan pergerakan acara yang dinamis, saya ikut bermalam di Hotel Astoria Gegutu Rembige.

Di malam kedua setelah santap malam, jelang kunker ke KSB dan Kabupaten Sumbawa keesokan harinya (2/5) untuk meresmikan Bendungan Tiu Suntuk dan panen raya jagung di jalur Samota, saya sempat berdiskusi dengan Menteri PUPR dan Menteri Pertanian. Diskusi santai tapi serius. Soal air.

Menteri PUPR bicara Water Management System (WMS) khususnya di NTB. 

Kunci sukses pembangunan di NTB adalah ketersediaan air. Dengan suplai air kontinyu dari bendungan, petani yang sebelumnya hanya 1x tanam setahun, bisa jadi 2-3x tanam setahun.

Pak Basuki bicara panjang lebar dan sangat menguasai WMS ini. Tak lupa juga menjelaskan 6 bendungan baru dari Proyek Strategis Nasionalnya Presiden Jokowi di NTB yaitu 
Tanju dan Mila (Dompu,  2018-2019 ). Bendungan Bintang Bano (Sumbawa Barat, 2022 ). Bendungan Beringin Sila (Sumbawa,  2022 ). Bendungan Tiu Suntuk (Sumbawa Barat,  2024) dan Bendungan Meninting (Lombok Barat, 2026) yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai kunker resmi pertamanya ke NTB. 

Sebelumnya, sudah ada beberapa bendungan besar di NTB. Yaitu Bendungan - Batujai Loteng  ( tertua, 1982, Presiden Soeharto). Bendungan Pengga Loteng (1990an). Bendungan Mamak Sumbawa (1989). Bendungan Pelaparado Bima (1990). Bendungan Batu Bulan Sumbawa ( Presiden Megawati 8/5/2003). Bendungan  Pandanduri Lotim (awal 2000an) dan lain-lain.

Menteri Pertanian malam itu menimpali dengan serius dan menjelaskan program Pompanisasi. Strateginya adalah kolaborasi dengan Kementerian PUPR. Bendungan menyediakan air baku. Pompanisasi mengalirkan air ke sawah tadah hujan.

Untuk NTB disiapkan 4.000 pompa. Kalau mau, nanti bisa ditambah jadi 6.000 pompa. Kenapa ? September, Oktober dan November itu yang paling kritis. Ini yang perlu dibuatkan solusi cepat melalui pompa.

Ditambah pupuk subsidi naik 100% dari 4,5 juta jadi 9,5 juta ton. Tujuannya swasembada. Kata Mentan Andi Amran malam itu.

Senang menyimak obrolan dua menteri andalan Presiden Jokowi itu. Kalau WMS dan OMC jalan lancar, petani bisa bercocok tanam ( Ngaro Ngareng - Bahasa Sasaq ) dengan baik. 
Kalau dengan WMS, bendungan terbangun dengan irigasi primer, sekunder dan tersier yang baik serta  pompa tersedia dalam jumlah yang memadai dan OMC pancing hujan untuk isi waduk berjalan beriringan, insya Allah petani bisa bercocok tanam tanpa takut dan cemas dengan El Niño berkepanjangan.

Kembali teringat, Pak Rahmat—sahabat petani di Lingsar asal Janeprie. Mik, hujan sudah turun di Lingsar. Tapi mudah - mudahan tidak turun dulu di daerah-daerah yang sedang tanam tembakau. Lamun yak turun jak bejowong wah batur-batur niki. Pak Rahmat berharap hujan jangan turun dulu di daerah petani tembakau. Kalau hujan turun, bukan hanya daun tembakau yang layu, tetapi petani tembakau pasti ikut lemas, pusing karena jelas akan merugi.

Ya, ada paradoks  menarik. Petani padi berharap segera hujan. Tapi petani tembakau bersyukur atas kemarau panjang ini. Tanaman tembakaunya tidak rusak karena hujan. Kualitas rajangan kering bagus. Harganya baik. Di Lombok Timur, banyak petani yang sengaja menunda menanam padi demi tembakau.

Lalu,  bagaimana dengan OMC ? Ini tugas Pemerintah Provinsi NTB untuk secara cermat menganalisis kondisi di lapangan untuk menentukan bagaimana, kapan, dan di mana OMC perlu dilakukan bila kemarau berkepanjangan.

Memang kadang sebuah kebijakan publik tidak bisa menjadi solusi cespleng untuk semua pihak. OMC dan pemompaan untuk petani pangan bisa jalan. Tapi tentu tidak boleh mengurangi  berkah bagi petani tembakau dengan datangnya hujan. Pemerintah harus hadir dengan sistem distribusi  air yang adil.

Air adalah kunci keberhasilan pembangunan.  Mengelolanya dengan baik berarti mengelola keadilan.

Untuk sebuah keadilan tidak hanya melihat titik awan di atas langit tapi juga melihat benih yang sudah tertanam di perut bumi.

Kalau sekarang di seputaran Sirkuit Mandalika masih cerah tanpa awan, di Warige Sasaq masih di mangse kebalit (kemarau).

Tunggu Bao Daye mengelilingi Gunung Rinjani dan hujan Pengelomang Jami 3 hari di Enem, baru itu tanda tumbuk taun untuk sedekah gumi dan mulai bercocok tanam.

"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir ( QS Al-Jatsiyah : 13).

Sejenak, duduk di pematang.  Saksikan petani bersiap ngaro - ngareng. Sepoi angin sawah menyapa. Nikmat, sambil simak lelakaq "Lalo Ngaro" di Youtube.

"Lalo ngaro, Tengaq bangket bawaq gunung.
Denden sampi, ponggok gau beturutan.
Uwah galeng, mentelah momot pete balung.
Inggas ngaro, pade mangan bebarengan.

Wassalam

Gedeng Gede - Puyung
 

COPYRIGHT © ANTARA 2026