NYT Ungkap Bom Pintar AS Seberat 2000 Pon Bunuh Pasutri dan Anaknya yang Berusia 2 Tahun |Republika Online

Potret peluncuran rudal High Mobility Artillery Rocket Systems (HIMARS) untuk menyerang Iran yang dilansir CENTCOM AS. Peluncuran itu dari wilayah yang diduga di salah satu negara Teluk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Laporan investigasi The New York Times menyimpulkan, militer Amerika Serikat (AS) menggunakan bom seberat 2.000 pon untuk menghantam sebuah rumah di Pulau Qeshm, Iran, dalam serangan pada Kamis malam. Serangan tersebut menewaskan pasangan suami istri dan putra mereka yang baru berusia dua tahun.

Berdasarkan analisis citra satelit, video, foto, dan serpihan amunisi, surat kabar tersebut memastikan bahwa senjata yang digunakan adalah bom Mark-84 buatan AS yang dilengkapi perangkat pemandu Joint Direct Attack Munition (JDAM).

Kesimpulan tersebut didukung oleh Trevor Ball, mantan teknisi penjinak bahan peledak Angkatan Darat AS yang kini menjadi analis di Armament Research Services, serta Frederic Gras, seorang konsultan amunisi asal Prancis. Keduanya telah meninjau bukti-bukti yang tersedia.

Serangan tersebut menghantam kawasan Chah-Tangu di Kota Qeshm, sebuah pemukiman padat penduduk yang menghadap ke Selat Hormuz. Dikutip dari laman Palestine ChronicleNYT melacak lokasi serangan menggunakan rekaman warga dan citra satelit, serta menemukan bahwa ledakan tersebut meninggalkan kawah berdiameter setidaknya 30 kaki (sekitar 9 meter) dan menghancurkan beberapa bangunan di sekitarnya.

Otoritas Iran mengidentifikasi korban tewas sebagai Zahra Jafari, suaminya Qeysar Jafari yang bekerja sebagai pengemudi taksi, serta putra mereka yang berusia dua tahun, Sina. Dua anak pasangan tersebut yang selamat, Mohammad Reza dan Mehdi, berhasil dievakuasi dari reruntuhan dan masih menjalani perawatan di rumah sakit dalam kondisi stabil.

AS menjatuhkan bom seberat 2.000 pon—yang dirancang untuk menghancurkan bunker militer—ke rumah seorang pengemudi taksi di Pulau Qeshm. Serangan ini menewaskan istri dan balitanya serta mengubur hidup-hidup dua anak lainnya, menambah daftar korban jiwa dalam eskalasi perang Washington terhadap Iran.