NIM BBCA di Semester I-2026, Analis Beri Rekomendasi Add Dengan Target Rp 8.000
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di kantor Cabang BCA (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memasuki fase perbaikan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) pada paruh kedua 2026 setelah sempat tertekan sepanjang semester pertama. Prospek tersebut menjadi salah satu katalis positif bagi kinerja bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia Handy Noverdanius dalam riset 29 Juli 2026 mengatakan hasil kinerja BBCA pada semester I 2026 masih sesuai dengan ekspektasi. BBCA membukukan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp 29,5 triliun atau tumbuh 1,7% secara tahunan setara dengan 48% dari proyeksi CGSI dan 49% dari konsensus Bloomberg untuk sepanjang 2026.
"Pada kuartal II 2026, laba bersih mencapai Rp14,8 triliun atau naik 1% dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama didorong oleh membaiknya beban pencadangan," ujar Handy dalam risetnya.
Baca Juga: BRI Andalkan Transformasi BRIvolution Reignite Perkuat Kinerja
Menurutnya, kualitas kredit BBCA masih tetap terjaga. Biaya kredit alias cost of credit (CoC) tercatat sebesar 50 basis poin pada semester I 2026. Meski demikian, manajemen masih berhati-hati terhadap prospek kredit konsumer, khususnya kredit kendaraan bermotor, serta mencermati kondisi sebagian debitur segmen usaha kecil menengah (UKM) dan komersial.
Kendati demikian, BBCA tetap mempertahankan target CoC bruto sepanjang 2026 di kisaran 50-60 basis poin.
Handy menilai perbaikan NIM pada semester II 2026 akan menjadi katalis utama bagi kinerja BBCA. Pada kuartal II 2026, NIM tercatat sebesar 5,3%, turun 10 basis poin dibandingkan kuartal sebelumnya. Secara semesteran, NIM juga berada di level 5,3% atau turun 50 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut terjadi seiring lebih rendahnya suku bunga acuan yang berada di level 4,75% sepanjang Januari-April 2026, atau turun 100 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, manajemen BBCA tetap optimistis dapat mencapai target NIM tahun ini di kisaran 5,4%-5,6%. Optimisme tersebut ditopang oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta penyesuaian suku bunga kredit korporasi.
"BBCA telah mulai menaikkan suku bunga sejumlah kredit korporasi, baik kredit yang sudah berjalan maupun kredit baru, sebesar 50-100 basis poin. Selain itu, yield kredit korporasi telah mencapai titik terendah pada April 2026 dan meningkat 15 basis poin secara bulanan pada Mei, kemudian kembali naik 19 basis poin pada Juni," jelas Handy.
Ia menambahkan, sebagian besar pertumbuhan kredit pada kuartal II baru terjadi pada Juni, sehingga kontribusi pendapatan bunga diperkirakan mulai terlihat pada kuartal III 2026.
Dari sisi penyaluran kredit, BBCA mencatat pertumbuhan kredit sebesar 4% secara kuartalan dan 8% secara tahunan hingga Juni 2026. Sebanyak 71% pertumbuhan kredit kuartalan berasal dari segmen korporasi, dengan sekitar 47% di antaranya disumbang oleh pinjaman pasar uang.
Baca Juga: Sinergi KUB Perkuat Kinerja, Konsolidasi Bank Jatim Tumbuh Positif Semester I 2026
BBCA juga mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun 2026 di kisaran 8%-10%. Pipeline kredit korporasi terutama berasal dari sektor swasta, seperti teknologi informasi, mineral, perkebunan, dan industri pengolahan minyak nabati.
Sementara itu, eksposur kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN) hanya sekitar 10%-12% dari total portofolio kredit pada kuartal II 2026 dan terkonsentrasi pada 13 debitur utama. Hampir separuh kredit BUMN tersebut disalurkan kepada institusi keuangan.
Untuk segmen konsumer, BBCA tetap memilih pendekatan konservatif, terutama pada pembiayaan kendaraan bermotor.
Sejalan dengan prospek tersebut, CGS International Sekuritas Indonesia kembali mempertahankan rekomendasi Add untuk saham BBCA. Namun, target harga diturunkan menjadi Rp 8.000 per saham dari sebelumnya seiring kenaikan asumsi tingkat bebas risiko menjadi 5,5% dari 5% serta meningkatnya premi risiko pasar akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun.
Menurut Handy, peluang kenaikan valuasi saham BBCA masih terbuka apabila permintaan kredit tumbuh lebih kuat dari perkiraan dan tekanan terhadap NIM semakin mereda. Sebaliknya, risiko yang perlu dicermati adalah memburuknya kualitas kredit serta persaingan penyaluran kredit yang semakin ketat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
- BBCA
- saham BBCA