Nilai Transaksi QRIS Capai Rp 600,69 Triliun hingga Juni 2026 |Republika Online
Pembeli melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan layanan digital QRIS BSI di Layanan Pasar dan Pengusaha UMKM (Lapak) BSI di Fresh Market Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). Lapak BSI merupakan gerai BSI yang ditempatkan di pasar dalam rangka dukungan terhadap digitalisasi keuangan UMKM dan peningkatan inklusi keuangan syariah khususnya pada ekosistem pasar.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi digital Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS menembus 12,55 miliar di tanah air sepanjang paruh pertama 2026. Nilai ini tumbuh 100,12 persen dibandingkan periode sama pada 2025.
"QRIS sebagai gerbang ekonomi digital sekaligus pengubah keadaan bagi ekonomi dan keuangan digital nasional," kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta dikutip Sabtu (8/8/2026).
Menurut dia, realisasi itu menegaskan pembayaran digital kini menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Filianingsih memaparkan hingga akhir Juni 2026, nilai transaksi QRIS mencapai Rp600,69 triliun atau tumbuh 89,52 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu menandakan masyarakat semakin nyaman meninggalkan uang tunai dan beralih ke transaksi berbasis pemindaian kode melalui telepon pintar.
Sementara itu, dari sisi jangkauan, layanan itu kini digunakan oleh sekitar 66 juta orang dan diterima di 44,86 juta gerai (merchant) di seluruh Indonesia.
Bank sentral itu menargetkan 70 juta pengguna dan 47 juta merchant hingga akhir 2026, sehingga capaian pada tengah tahun itu menunjukkan laju yang deras.
Untuk volume transaksi, target sepanjang 2026 dipatok 17 miliar sehingga dengan capaian 12,55 miliar pada semester pertama, kata dia, berarti hampir tiga perempat target telah terpenuhi.
Sebagian besar merchant QRIS merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang sebelumnya sulit menerima pembayaran nontunai.
Melalui kode yang cukup dicetak di kertas, pedagang kecil kini dapat menerima pembayaran dari beragam bank dan dompet digital.
Kondisi itu turut mendorong inklusi keuangan, yakni makin luasnya masyarakat yang tersentuh layanan keuangan formal.
sumber : ANTARA