Ngaku Memancing tapi Diduga Hendak Bakar Hutan, 3 Orang di Riau Diminta Prabowo Dibawa ke Jakarta

Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto meminta tiga orang yang dilaporkan berada di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau untuk dibawa ke Jakarta. Ketiganya disebut mengaku sedang memancing ketika berada di lokasi, tetapi Kapolda Riau menyebut tidak ada tempat memancing di kawasan tersebut.

Laporan itu disampaikan Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan saat mengikuti rapat penanganan karhutla yang dipimpin Prabowo di Lanud Roesmin Nasjudin, Riau, Senin (24/8/2026). Herry menjelaskan pihaknya menemukan tiga orang di lokasi yang kemudian dimintai keterangan terkait keberadaan mereka.

"Padahal alasan dia hanyalah untuk memancing, padahal tidak ada lokasi memancing," kata Herry dalam rapat tersebut.

Menurut Herry, ketiga orang itu berada di kawasan yang berkaitan dengan penanganan karhutla. Polisi kemudian mendalami keberadaan dan aktivitas mereka karena alasan yang disampaikan dinilai tidak sesuai dengan kondisi lokasi.

Prabowo merespons laporan tersebut dengan meminta agar ketiga orang itu dibawa ke Jakarta. Ia meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ikut mendalami kasus tersebut bersama aparat terkait.

"Tolong dikirim ke Jakarta, Kapolri. Kita dalami," kata Prabowo.

Prabowo juga meminta Badan Intelijen Negara (BIN) ikut melakukan pendalaman. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan informasi mengenai aktivitas ketiga orang tersebut dapat ditelusuri lebih lanjut.

Herry sebelumnya menyampaikan bahwa sepanjang 2025 hingga 2026, Polda Riau telah memproses puluhan perkara karhutla. Total terdapat 94 kasus dengan 106 tersangka yang telah ditangani kepolisian.

Khusus pada 2026, Herry menyebut terdapat 33 laporan polisi dengan 36 tersangka. Luas lahan yang terbakar dalam perkara tersebut mencapai sekitar 806,57 hektare.

"33 laporan polisi dan 36 tersangka, dengan luas yang terbakar sejumlah 806,57 hektar," ujar Herry.

Kapolda Riau juga menyebut seluruh kasus karhutla yang ditangani di wilayahnya berkaitan dengan aktivitas manusia. Faktor tersebut mencakup pembakaran yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.

Baca Juga: Malaysia Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Tapi Ada Syaratnya

"Semuanya dari manusia baik yang disengaja maupun tidak disengaja," kata Herry.

Dalam rapat tersebut, Herry juga menjelaskan adanya dugaan modus pembakaran lahan dengan menggunakan petani atau masyarakat kecil. Namun, ketika Prabowo menanyakan apakah terdapat bukti atau indikasi korporasi yang memerintahkan pembakaran, Herry menyatakan belum menemukan bukti tersebut dalam kasus tiga orang yang dilaporkan berada di lokasi.

"Sampai saat ini belum, Bapak," jawab Herry.

Selain membahas tiga orang tersebut, Prabowo juga meminta laporan mengenai lima korporasi yang sebelumnya dikenai penegakan hukum oleh Kementerian Lingkungan Hidup terkait karhutla pada 2025. Kelima perusahaan tersebut disebut telah melakukan perbaikan, tetapi statusnya masih status quo dan izin operasionalnya belum dicabut.

Prabowo meminta nama-nama perusahaan tersebut dilaporkan kepadanya untuk didalami lebih lanjut. Ia menegaskan perusahaan yang tidak menjalankan kewajiban menjaga lingkungan dapat menghadapi pencabutan izin.

"Pokoknya siapa perusahaan yang tidak mau ikut menjaga, itu kita cabut," tegas Prabowo.

Prabowo menilai hutan memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sekaligus keberlangsungan kegiatan usaha. Karena itu, ia meminta perusahaan tidak melakukan eksploitasi tanpa menjalankan kewajiban mencegah kerusakan lingkungan.

"Sumber kehidupan rakyat, sumber kehidupan perusahaan itu juga. Enggak boleh dia seenaknya dia tidak mencegah," ujar Prabowo.

Pendalaman terhadap tiga orang yang disebut mengaku memancing tersebut kini menjadi bagian dari penanganan kasus karhutla di Riau. Sementara itu, pemerintah juga terus mengevaluasi penanganan terhadap korporasi yang dinilai memiliki kewajiban menjaga kawasan dan mencegah terjadinya kebakaran.