Negara-Negara di Eropa Kena Hantam Perubahan Iklim Sampai Kekeringan
Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
30 August 2026 12:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim sangat terasa di beberapa negara Eropa, di mana beberapa negara sekitar satu atau dua bulan lalu, dilanda cuaca panas ekstrem. Bahkan, panas ekstrem tersebut tidak biasa dialami oleh sebagian besar masyarakat Eropa.
Baru-baru ini, panas ekstrem juga membuat perairan di Eropa mengering. Kekeringan berkepanjangan dan panas terik musim panas ini telah menghancurkan ekosistem dan bisnis di seluruh wilayah, mulai dari danau di Slovenia dan saluran samping Sungai Danube di Serbia, hingga tambak ikan di Bosnia, Republik Ceko, Rumania, dan Hongaria.
Industri perikanan terkena dampak paling parah, dengan kerugian diperkirakan mencapai jutaan euro. Hal ini menambah kerugian yang sudah tinggi akibat masalah pasokan energi dan air, kerusakan tanaman, hingga kerugian dalam lalu lintas sungai dan perdagangan.
Karena merasa tidak siap menghadapi krisis tahun ini, negara-negara dan bisnis kini sedang mempertimbangkan cara untuk meminimalkan dampak peristiwa cuaca ekstrem di masa depan yang oleh para ilmuwan dikaitkan dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Menurut Badan Meteorologi Nasional Hungaria, sekitar 99% lahan di Hongaria saat ini berada dalam kondisi kekeringan parah atau ekstrem. Penggurusan, yaitu proses di mana vegetasi berkurang karena suhu tinggi dan curah hujan rendah dapat mengancam sebagian besar Dataran Besar Hungaria.
Di antara yang paling terdampak adalah sekitar 27.000 hektare tambak ikan di Hungaria. Kementerian Pertanian dan Ekonomi Pangan Hungaria mengatakan bahwa "panas dan kekurangan air yang terus-menerus" telah menyebabkan 1.588 hektare tambak tersebut mengering, mengakibatkan kematian hampir 280 metrik ton ikan di 20 peternakan.
Pihaknya juga memperkiraan kerugian pendapatan akibat kerusakan tersebut mencapai 1,3 miliar forint (4,2 juta dolar AS).
"Mengganti ikan yang hilang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Terkadang, operator terpaksa mengeringkan satu kolam dan mengalihkan airnya untuk menyelamatkan ikan di kolam lain," kata Organisasi Antar-cabang Akuakultur dan Perikanan Hungaria, dikutip dari AP, Minggu (30/8/2026).
Tak hanya di Hungaria, kekeringan juga melanda Rumania. Presiden Asosiasi Produsen Ikan Nasional Rumania (ROMFISH) Catalin Platon mengatakan para peternak ikan di Rumania, khususnya mereka yang membudidayakan ikan mas, gelombang panas yang menyengat tahun ini terjadi setelah kekeringan parah pada 2023 dan 2024, yang dampaknya masih terasa hingga kini.
Dalam produksi ikan mas, kata Platon, siklus produksinya adalah tiga atau empat tahun.
"Jadi, apa yang kita hilangkan pada 2023 telah berdampak setiap tahun sejak saat itu," kata Platon.
"Kebijakan penggunaan air yang memprioritaskan irigasi untuk pertanian selama kekeringan sebelumnya, menyebabkan kita tidak memiliki air untuk ikan," keluh Platon.
Begitu juga di Republik Ceko, di mana para peternak ikan di seluruh telah mengambil berbagai tindakan darurat dengan mengurangi atau menghentikan pemberian pakan untuk mengurangi penggunaan oksigen, mengaerasi kolam atau mengurasnya bila perlu.
Para pejabat Asosiasi Perikanan Ceko mengatakan bahwa curah hujan yang berkelanjutan dapat meringankan krisis jangka pendek, tetapi langkah-langkah jangka panjang diperlukan untuk menahan lebih banyak air di wilayah tersebut.
"Beberapa kolam yang sebenarnya kekurangan air sudah dieksploitasi, tetapi semuanya adalah kolam yang kondisinya kurang baik. Sekarang kami baru mulai merencanakan apa yang akan dilakukan dengan kolam-kolam besar itu," kata Jan Sokolik, seorang teknisi di tempat pemancingan Rybarstvi Trebon, dilansir dari AP.
Negara lain seperti Bosnia dan Slovenia juga mengalami hal yang sama, yakni mengeringnya perairan yang menjadi sumber kehidupan karena menjadi tempat ikan-ikan tertentu berada.
Seorang peternak yakni Veljko Budjen mengatakan musim panas yang panas dan kering telah membawa masalah serius di negara yang sebagian besar bergunung-gunung dan terkenal dengan restoran ikan troutnya.
"Ikan trout adalah ikan air dingin, yang membutuhkan air dingin dengan banyak oksigen. Jadi selama musim panas, Anda terpaksa mengurangi produksi dan pemberian pakan ikan trout agar bisnis ini bisa bertahan hidup," ujar Budjen.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)