Menteri UMKM dorong pelaku usaha naik kelas dan mandiri - ANTARA News Jawa Timur
Surabaya (ANTARA) - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mendorong pelaku usaha naik kelas dan mandiri melalui penguatan ekosistem kewirausahaan dan kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah.
“Hal tersebut menjadi fokus kami (Kementerian UMKM, red) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pengentasan kemiskinan,” kata Maman saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Kementerian UMKM di Gedung Pusat Robotika ITS, Surabaya, Rabu.
Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 mengusung tema "Berani Mulai, Bertumbuh, Siap Berdampak" dan mempertemukan wirausaha binaan dengan lembaga mitra untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan.
Maman mengatakan pemerintah menargetkan percepatan transformasi tenant menjadi usaha mandiri yang berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Ia juga menyoroti inovasi dari perguruan tinggi yang sering berhenti pada tahap prototipe nonkomersial sehingga belum sepenuhnya berkembang menjadi prospek bisnis.
“Perlu juga dilakukan optimalisasi peran lembaga inkubator guna memantau, mengevaluasi, serta memberdayakan perusahaan rintisan (startup) dan UMKM potensial di berbagai daerah,” ujarnya.
Maman mengatakan Kementerian UMKM berencana membentuk komite monitoring khusus di bawah Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat untuk memastikan pembinaan UMKM berjalan terukur.
“Perlindungan pasar domestik juga kami perketat agar produk lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Maman.
Sementara itu, Rektor ITS Prof Bambang Pramujati mengatakan Jawa Timur memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ekonomi nasional dengan dukungan jutaan unit usaha dan koperasi.
Bambang mengatakan ITS mengambil peran dalam memperkuat kapasitas teknologi, inovasi, produktivitas, dan daya saing pelaku usaha melalui berbagai program kolaboratif bersama pemerintah.
“Beberapa di antaranya One Pesantren One Product (OPOP), penyediaan desain kemasan gratis, hingga pembekalan ribuan pelajar dengan keterampilan wirausaha,” ujar Bambang.
Melalui Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST), ITS juga membina puluhan perusahaan rintisan atau startup setiap tahun. Kolaborasi tersebut membuka peluang pengembangan UMKM berbasis teknologi.
Bambang menyatakan ITS berkomitmen mendukung program pemerintah untuk menaikkan kelas UMKM agar menjadi bagian dari kemandirian ekonomi.
“Dukungan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan industri diharapkan dapat terus bersinergi dalam menyediakan ‘kolam’ pasar yang luas bagi para wirausahawan baru,” tuturnya
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi lokakarya, pameran produk inovasi, dan sesi pitching bisnis. Dua usaha rintisan mahasiswa ITS yang dibina Inkubator Layanan Bisnis Inovatif (ILBI) ITS, yakni Vityuu dan IncludeVision, turut memaparkan model bisnis dan produk.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.