Mengenal Dampak Helicopter Parenting, Bisa Hambat Tumbuh Kembang Anak

Florence Febriani Susanto | Beautynesia

Kamis, 30 Jul 2026 13:15 WIB

Mengenal Dampak Helicopter Parenting, Bisa Hambat Tumbuh Kembang Anak

Helicopter parenting/Foto: Magnific

Pernah nggak sih, Beauties, kamu melihat orang tua yang selalu ingin terlibat dalam hampir semua keputusan anak? Mulai dari urusan sekolah, pertemanan, sampai masalah kecil sehari-hari pun rasanya harus selalu ikut dikontrol. Padahal tanpa disadari, pola seperti ini bisa menimbulkan dampak helicopter parenting yang cukup serius untuk perkembangan anak.

Dilansir dari International School Parent, istilah tersebut menggambarkan gaya pengasuhan ketika orang tua terlalu terlibat dalam kehidupan anak, seolah terus “mengitari” anak seperti helikopter dan selalu siap turun tangan saat masalah muncul. Orang tua jadi sulit memberi ruang bagi anak untuk mencoba, membuat keputusan sendiri, bahkan belajar dari kesalahan yang sebenarnya penting dalam proses tumbuh dewasa.

Nah, sebelum terlambat, penting banget memahami seperti apa sebenarnya pola asuh ini dan bagaimana efeknya terhadap perkembangan anak ke depan.

Menghambat Kemampuan Mengambil Keputusan

Hambat Kemampuan Mengambil Keputusan/Foto: Magnific

Anak yang sejak kecil selalu diarahkan dalam setiap situasi biasanya tumbuh dengan kemampuan mengambil keputusan yang kurang terasah. Mulai dari keputusan sederhana sampai situasi penting, mereka terbiasa menunggu arahan dari orang lain.

Padahal Beauties, kemampuan berpikir kritis dan menentukan pilihan merupakan bekal penting saat anak memasuki dunia remaja hingga dewasa. Ketika kesempatan belajar itu terus diambil alih orang tua, anak jadi kesulitan membangun rasa percaya terhadap pilihannya sendiri.

Anak Menjadi Sulit Mengelola Emosi

Sulit Mengelola Emosi/Foto: Magnific

Saat anak selalu dijauhkan dari situasi sulit, mereka kehilangan kesempatan belajar menghadapi rasa kecewa, frustrasi, ataupun tekanan. Padahal kemampuan mengelola emosi justru berkembang ketika seseorang belajar menghadapi masalah secara bertahap.

Akibatnya, ketika suatu saat menghadapi konflik sendiri, anak lebih mudah merasa cemas atau kewalahan. Jadi sesekali membiarkan anak menghadapi tantangan kecil sebenarnya bagian penting dalam proses belajar mereka, lho.

Menurunkan Kepercayaan Diri Anak

Menurunkan Kepercayaan Diri/Foto: Magnific

Percaya diri biasanya terbentuk ketika seseorang berhasil menyelesaikan sesuatu dengan usahanya sendiri. Namun, kondisi ini sulit tercipta jika orang tua terus mengambil alih berbagai urusan anak, bahkan untuk hal-hal sederhana.

Lama-kelamaan, anak bisa berpikir bahwa dirinya tidak cukup mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Pesan yang mereka tangkap tanpa sadar adalah keberhasilan selalu datang karena bantuan orang tua, bukan dari kemampuan diri sendiri.

Kemampuan Menghadapi Kegagalan Menjadi Rendah

Tak Bisa Hadapi Kegagalan/Foto: Magnific

Beauties, gagal sebenarnya bagian alami dari proses belajar. Justru dari pengalaman gagal, seseorang belajar memperbaiki strategi, bangkit lagi, lalu berkembang menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Sayangnya, anak yang selalu dilindungi dari kesalahan sering kali tidak terbiasa menghadapi rasa kecewa. Ketika tumbuh dewasa, mereka cenderung memiliki toleransi frustrasi lebih rendah dan mudah menyerah saat menemui hambatan.

Risiko Gangguan Kesehatan Mental Meningkat

Risiko Mengalami Gangguan Mental Meningkat/Foto: Magnific

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu mengontrol memiliki hubungan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi pada anak maupun remaja. Ini terjadi karena anak terus terbiasa menerima arahan dan tidak terbentuk rasa percaya terhadap kemampuannya sendiri.

Ketika mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mengambil keputusan mandiri, rasa takut melakukan kesalahan cenderung muncul lebih besar dibanding anak yang terbiasa dilatih mandiri sejak awal.

Anak Merasa Harus Selalu Diprioritaskan

Anak Harus Selalu Diprioritaskan/Foto: Magnific

Ketika orang tua terus hadir untuk memenuhi semua kebutuhan anak tanpa memberi kesempatan berusaha sendiri, anak bisa terbiasa menerima bantuan tanpa memahami pentingnya tanggung jawab pribadi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memunculkan rasa entitlement, yaitu keyakinan bahwa orang lain akan selalu hadir menyelesaikan masalahnya. Akibatnya, anak jadi kurang terbiasa bekerja keras untuk mencapai sesuatu secara mandiri.

Sebagai orang tua, memberikan perhatian penuh tentu lahir dari rasa sayang. Namun penting dipahami bahwa mendampingi anak tidak selalu berarti harus ikut campur dalam semua hal yang mereka lakukan setiap hari.

Jadi Beauties, sesekali memberi anak ruang untuk mencoba, gagal, lalu belajar bangkit sendiri justru menjadi hadiah terbaik dalam proses tumbuh dewasa mereka. Ingat ya, Beauties! Tugas orang tua bukan selalu melindungi, tetapi membantu anak siap menghadapi kehidupan nyata dengan kemampuannya sendiri.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

Pilihan Redaksi

(naq/naq)

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.